Feeds:
Tulisan
Komentar

Kalau kita berbicara tentang kematian, secara tidak langsung itulah yang ditunggu-tunggu manusia yang sadar bahwa tanpa kematian tidak ada proses pada kehidupan yang kekal dan abadi. Kematian itu adalah proses alami yang harus berlaku bagi setiap manusia yang beragama (menurut kepercayaan), dan khususnya Dalihan Natolu, mempunyai arti tersendiri sehingga tidak lepas dari bagian Adat dan Budaya Batak.

Dalam hal ini kita dapat mengamati pada acara dan Upacara yang berlaku di masyarakat Dalihan Natolu khususnya di Jabotabek dalam segala usia dan menurut kebiasaan yang dilakukan. Oleh karena itu perlu kita ajukan suatu acuan pedoman yang diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat Dalihan Natolu dalam pelaksanaan Adat kematian dimasa mendatang.

Kita dapat membedakan Adat Kematian dalam masyarakat Dalihan Natolu berdasarkan agama (dapat dijelaskan secara singkat). Macam atau Ragam Adat bagi warga yang meninggal dunia:

  1. TILAHA : Kematian bagi warga Dalihan Natolu berkeluarga yang biasa disebut NAPOSO dalam hal ini perlakuan.
  2. PONGGOL ULU (SUAMI) : Kematian yang diakibatkan si suami lebih dahulu meninggal dunia daripada si istri, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.
  3. MATOMPAS TATARING (ISTRI) : Kematian yang diakibatkan si istri lebih dahulu meninggal daripada si suami, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.
  4. SAUR MATUA : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang sudah mempunyai cucu dan semua anak-anaknya sudah berkeluarga.
  5. MATUA BULUNG : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang telah mempunyai cucu bahkan sudah mempunyai cicit atau disebut Nini/Nono dengan lanjut usia.
  6. Nini : Disebut keturunan dari anak laki-laki.
  7. Nono : Disebut keturunan dari anak perempuan.

Bagaimanakah hubungannya kematian tersebut dengan Adat Dalihan Natolu, dalam hal ini lebih dahulu kita harus mengetahui yang meninggal termasuk golongan mana dari Ragam kematian tersebut diatas untuk menempatkan Adat juga hubungannya dengan Ulos.

Dalihan Natolu mempunyai 3 hal yang berhubungan dengan Ulos:

  1. Pemberian ULOS SAPUT, Ulos ini diberikan kepada yang meninggal dunia sebagai tanda perpisahan. Siapakah yang berhak memberikan SAPUT tersebut, dalam hal ini perlu kita mempunyai satu persepsi untuk masa yang akan datang karena hal ini banyak berbeda pendapat menurut lingkungannya masing-masing, misalnya HULA-HULA/TULANG.
  2. Pemberian ULOS TUJUNG, Dalam hal ini semua dapat menyetujui dari pihak HULA-HULA.
  3. Pemberian ULOS HOLONG.

Dari semua pihak Hula-hula, Tulang Rerobot bahkan Bona ni Ari termasuk dari Hula-hula ni Anak Manjae/Hula-hula ni na Marhaha Maranggi, berhak memberikan kepada Keluarga yang meninggal.

Bagaimanakah hubungannya dengan Adat Dalihan Natolu diluar Ulos tersebut yang mempunyai harga diri (dalam Pesta Adat). Dalam hal ini terjadilah beberapa pelaksanaan setelah adanya Musyawarah atau lazim disebut RIA RAJA oleh beberapa Dalian Natolu disebut Boanna. Boan ini (yang dipotong pada hari Hnya) terdiri dari beberapa macam, misalnya:

  1. Babi/Kambing, disebut Siparmiak-miak
  2. Sapi, disebut Lombu Sitio-tio
  3. Kerbau, disebut Gajah Toba

Sesuai dengan Adat Dalihan Natolu tingkatan daripada Boan tersebut disesuaikan dengan Parjambaron.

Fungsi Dalihan Natolu menggunakan istilah Adat :

  • Pangarapotan : Adalah suatu penghormatan kepada yang meninggal yang mempunyai gelar Sari Matua dan lain-lain sebelum acara besarnya dan penguburannya atau dihalaman (bilamana memungkinkan). Dalam hal ini suhut dapat meminta tumpak (bantuan) secara resmi dari family yang tergabung dalam Dalihan Natolu disebut Tumpak di Alaman.
  • Partuatna : hari yang dianggap menyelesaikan Adat kepada seluruh halayat Dalihan Natolu yang mempunyai hubungan berdasarkan adat. Pada waktu pelaksanaan ini pulu Suhut akan memberikan Piso-piso/situak Natonggi kepada kelompok Hula-hula/Tulang yang mana memberikan Ulos tersebut diatas kepada yang meninggal dan keluarga dan pemberian uang ini oleh keluarga tanda kasihnya.. Juga pada waktu bersamaan ini pula dibagikan jambar-jambar sesuai dengan fungsinya masing-masing dengan azas musyawarah sebelumnya, setelah itu dilaksanakanlah upacara adat mandokon hata dari masing-masing pihak sesuai dengan urutan-urutan secara tertulis. Setelah selesai, bagi orang Kristen diserahkan kepada Gereja (Huria) untuk seterusnya dikuburkan.

ni enet sian hutanamidotcom

Di hita halak batak, ari-ari manang tingki adong do goarna di bahen na joloani inon. Molo di hita dalam bahasa Indonesia, adong ma didok 01.00 – 24.00 dalam sat hari, jala di bulan adong tanggal 1-30. Di hita halak batak, adong do goar ni inon sudena, songon ma didok disi na ni enet sian hutanami.com,

Dalam Bahasa Batak, ada istilah yang menyatakan waktu (jam) dalam hari. Dalam bahasa batak di kenal istilah “tikki na lima”. “Sogot” adalah antara pukul 05.00 s/d pukul 07.00 pagi. “Pangului” adalah antara pukul 07.00 s/d pukul 11.00 pagi. “Hos” adalah antara pukul 11.00 s/d pukul 13.00 siang. “Guling” adalah antara pukul 13.00 s/d pukul 17.00 sore. “Bot” adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00 petang.

Kalau istilah diatas menyatakan waktu dalam range, maka ada lagi istilah yang spesifik menunjuk jam berapa.

Contoh:
Jam 01 : Haroro NI Panakko
Jam 02 : Tahuak Manuk Sahali
Jam 03 : Tahuak Manuk Dua Hali
Jam 04 : Buha-Buha Ijuk
Jam 05 : Torang Ari
Jam 06 : Binsar Mata Ni Ari
Jam 07 : Pangului
Jam 08 : Turba
Jam 09 : Pangguit Raja
Jam 10 : Sagang Ari
Jam 11 : Huma Na Hos
Jam 12 : Hos / Tonga Ari
Jam 13 : Guling
Jam 14 : Guling Dao
Jam 15 : Tolu Gala
Jam 16 : Dua Gala
Jam 17 : Sagala
Jam 18 : Mate Mata Ni Ari
Jam 19 : Samon
Jam 20 : Hatiha Mangan
Jam 21 : Tungkap Hudon
Jam 22 : Sampe Modom
Jam 23 : Sampe Modom Na Bagas
Jam 24 : Tonga Borngin

ISTILAH HARI DALAM BULAN

Dalam bahasa batak dikenal juga istilah hari dalam bulan. Jika dalam bulan ada 30 hari maka setiap hari tersebut ada istilahnya / bahasa bataknya, sbb:
Hari ke-1 : Artia
Hari ke-2 : Suma
Hari ke-3 : Anggara
Hari ke-4 : Muda
Hari ke-5 : Boraspati
Hari ke-6 : Singkora
Hari ke-7 : Samisara
Hari ke-8 : Antian ni aek
Hari ke-9 : Suma ni mangadap
Hari ke-10 : Anggara Sampulu
Hari ke-11 : Muda ni mangadap
Hari ke-12 : Boraspati na tanggok
Hari ke-13 : Singkora Purnama
Hari ke-14 : Samisara Purnama
Hari ke-15 : Tula
Hari ke-16 : Suma ni Holon
Hari ke-17 : Anggara ni holon
Hari ke-18 : Muda ni holon
Hari ke-19 : Boraspati ni holon
Hari ke-20 : Singkora mora turun
Hari ke-21 : Samisara mora turun
Hari ke-22 : Antian ni anggora
Hari ke-23 : Suma ni mate
Hari ke-24 : Anggara ni begu
Hari ke-25 : Muda ni mate
Hari ke-26 : Boraspati na gok
Hari ke-27 : Singkora duduk
Hari ke-28 : Samisara bulan mate
Hari ke-29 : Hurung
Hari ke-30 : Ringkar

Jadi marlapatan do ate goar ni ari inon tu partubu ni angka jolma, jala sian i do hape didok jala muncul pangalaho jala pantangan na dibahen angka natua-tua na ujui.

Jala angka goar-goar ni tingki i non dibahen tudos tu angka ula-ula ni jolma di tingki inon. :)

Hira piga-piga hali memang, hubereng apala tung mansai bingung do iba mamereng di hurang jelas on ni anak hon ni ompu ta Raja Sonang. Adong na mandok anak ni Raja Sonang ima Gultom, Samosir, Pakpahan, dohot Sitinjak. Adong na deba mandok hon, dang holan i anakhon ni Raja Sonang, Pandiangan termasuk do dibagas na.

Mungkin mambahen i ala hurang dope ra ate informasi tu hita angka pomparan ni Raja Sonang songon dia do satohona. Mungkin molo adong angka dongan lumobi tu angka pomparan ni Raja Sonang, anggo boi nian, dibagi ma songon dia nian cerita ni omputa na jolo an inon. Asa unang mansai bingung hita dibahen sa.

Marnida inon, hucoba ma hubereng di daftar tarombo ni si Raja Batak sahat tu angka anakhon na jala tu parserakan ni angka marga na adong. Disi di surathon, ianggo anakhon ni Raja Sonang i ma opat halak, ima Gultom, Samosir, Pakpahan dohot Sitinjak. Anggo Pandiangan anak hon ni Raja Humirtap saudara ni Raja Sonang. Anggo Harianja, anakhon ni Samosir ma sian Sidari. Hira songoni ma hurasa anggo so sala hurang lobi.

Molo adong angka dongan na manambai jala padenggan hon, nauli jala na denggan.

rajasonang

Anak ni Raja Sonang

Tulisan Sebelumnya »