Dahulu kala ada sebuah cerita yang berasal dari pangururan, pulau samosir tepatnya
di desa si dogordogor tinggallah seorang laki-laki bernama Guru Hatimbulan. Beliau
adalah seorang dukun yang bergelar Datu Arak ni Pane. Istrinya bernama Nan sindak
Panaluan. Telah sekian lama mereka menikah tetapi belum juga di karuniai seorang
anak. Suatu ketika perempuan itu hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu, kehamilan tsb membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap
keadaan itu hal yang gaib(aneh), bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi masa
kemarau dan paceklik, cuaca sangat panas dan kering, saking teriknya tak
tertahankan, permukaan tanah dan rawa-rawa pun menjadi kerak dan keras.
Melihat keadaan kemarau dan panas yg masih terjadi ini, membuat Raja Bius(head of
Malim community) menjadi risau, lalu ia pergi menjumpai Guru Hatimbulan dan
berkata kepadanya : ‘Mungkin ada baiknya kita mencari sebabnya dan bertanya
kepada Debata mulajadi Nabolon, mengapa panas dan kemarau ini masih terus
berkepanjangan?’ hal ini sangat jarang terjadi sebelumnya. lalu Guru Hatimbulan
menjawab :” semua ini mungkin saja terjadi” lalu Raja Bius mengatakan :” semua
orang kampung heran mengapa istrimu begitu lama baru hamil, mereka berkata
bahwa kehamilan nya itu sangat terlalu lama , karena perkataan itu maka timbullah
pertengkaran diantara mereka tetapi tidak ada yang sampai cidera atau mati.
Dilain waktu tiba saatnya istri Guru Hatimbulan melahirkan, perempuan itu
melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki dan perempuan, seketika itu juga
maka hujan pun turun dgn lebatnya, maka semua tanam-tanaman dan pepohonan
nampak segar kembali dan keadaan menjadi hijau lagi. Untuk merayakan itu semua,lalu Guru Hatimbulan memotong seekor lembu serta untuk mendamaikan kekuasaan
jahat.
Ia juga mengundang semua penatua-penatua dan kepala-kepala kampung dalam
perjamuan itu, dimana nama anak-anak itu akan di umumkan putranya diberi nama
Si Aji Donda Hatahutan dan putrinya itu di beri nama Si Boru Tapi Nauasan.
Setelah usai pesta tsb, ada beberapa tamu yg telah menasehatkan Guru Hatimbulan
supaya anak-anak itu jangan kiranya di asuh bersama-sama, yang satu kiranya di
bawa ke barat dan yang satu lagi di bawa ke timur, sebab anak itu lahir kembar, dan
juga berlainan jenis kelamin, hal ini sangat tidak menguntungkan menurut kata
orangtua dulu.
Guru hatimbulan tidak memandang serta memperhatikan nasehat dari para penatua
dan kepala kampung tsb. Setelah sekian lama terbuktilah apa yg dinasehat para
penatua itu benar adanya. Dilain waktu, Guru hatimbulan pergi ke pusuk buhit dan
membuat sebuah gubuk disana, dan membawa anak-anaknya kesana. Gubuk itu
dijaga dgn seekor anjing dan setiap hari guru hatimbulan membawakan makanan
untuk anaknya tsb. Setelah anak-anaknya bertumbuh menjadi besar, pergilah
putrinya jalan-jalan ke hutan lalu dilihatnya sebuah pohon yaitu pohon piu-piu
tanggulon(hau tadatada), pohon yang batangnya penuh dgn duri, dan mempunyai
buah yg masak & manis.
Melihat buah pohon itu,maka timbullah hasratnya untuk memakannya, tetapi
sebelum dia naik ke pohon itu, dia mengambil beberapa buah itu dan memakannya.
Pd saat itu juga, dia tertelan dan menjadi satu dgn pohon itu hanya kepalanya saja
yg terlihat(tersisa) . Di tempat lain abangnya Si Aji Donda Hatahutan gelisah
menunggu adiknya pulang, kenapa sampai sore kok belum pulang juga adiknya, lalu
dia pergi ke dalam hutan untuk menyelidikinya sambil berteriak memanggil-manggil
nama adiknya itu..saat dia sudah merasa letih, tiba2 dia mendengar jawaban dari
adiknya dari pohon yg berdekatan dgn dia, dan adiknya menceritakan apa yg
terjadi,sehingga dia tertelan oleh pohon tersebut.
Si aji donda memanjat pohon itu, tetapi dia pun ikut ditelan dan menjadi satu dgn
pohon itu. Keduanya menangis untuk meminta tolong, tetapi suara mereka hilang
begitu saja di dalam gelapnya hutan. Keesokan paginya, anjing mereka lewat dan
meloncat-loncat pd pohon tsb, lalu anjing itupun mengalami hal yg sama, tertelan
oleh pohon itu hanya kepalanya saja yg terlihat.
Seperti biasa si Guru hatimbulan datang ke gubuk anaknya untuk membawakan
mereka makanan, tapi dia tidak menemui mereka, lalu dia mencari dan mengikuti
jejak kaki anaknya ke dalam hutan, sampai pada akhirnya dia menemui pohon tsb
dan dimana dia hanya melihat kepala dua orang anak-anaknya dan anjing penjaga.Melihat hal itu dia menjadi sedih. Dari info dan petunjuk yang dia cari maka bertemulah dia dengan seorang datu yg bernama Datu Parmanuk koling, dia
menceritakan kejadian itu dan mengajak datu itu ke pohon tsb untuk menolong
anaknya, diiringi oleh banyak orang yg ingin melihat, karena kejadian ini sudah
tersebar ke berbagai pelosok. dan pemusik pun sudah dipanggil lalu si Datu memulai
ritualnya, si datu berdoa dan membaca mantra untuk membujuk roh yg menawan
anak si Guru hatimbulan, setelah upacara selesai maka naiklah si Datu parmanuk
koling ke pohon itu, tetapi hal yg sama juga terjadi, dia tertelan oleh pohon itu.
Guru Hatimbulan dan para penonton kembali ke rumah mereka dgn hati kecewa,
tetapi mereka tidak putus asa , mereka tetap berusaha mencari jalan keluarnya dgn
mencari datu lain. Kemudian Guru hatimbulan mendengar kabar ada datu yg hebat,
namanya Marangin Bosi atau Datu mallantang malitting. Orang itu pergi ke pohon
tersebut, tetapi mengalami nasib yg sama.
Kemudian ada juga Datu Boru SiBaso Bolon, dia juga menjadi tawanan si pohon itu.
Hal yang sama juga terjadi kepada Datu Horbo Marpaung, Si Aji Bahar(si Jolma so
Begu) yang mana setengah manusia dan setengah iblis. Dan seekor ular pun di telan
pohon itu. Guru hatimbulan sudah kehabisan akal,dan juga telah mengeluarkan
begitu banyak uang untuk keperluan pemusik(gondang) , pele-pelean, dan semua yg
diminta para datu itu utk roh yg ada di pohon tsb.
Beberapa hari setelah itu, seorang datu, bernama Si Parpansa Ginjang
memberitahukan Guru hatimbulan bahwa dia dapat membebaskan kedua anaknya
dari tawanan pohon itu. Guru hatimbulan mempercayai omongan si datu itu,dan
menyediakan semua apa yang diminta oleh si datu. Si datu berkata bahwa kita harus
memberikan persembahan kepada semua roh, roh tanah(spirit of land), roh
air(water), roh kayu(wood) dan lainnya baru kemudian bisa membebaskan kedua
anak tsb.
Guru hatimbulan mempersiapkan semua yg diperlukan oleh si datu utk upacara tsb
sesuai dgn arahan si datu. Kemudian mereka pergi menemui pohon itu disertai oleh
orang kampung sekitarnya. Setelah si datu selesai memberikan mantra kepada
senjata wasiatnya,lalu dia menebang pohon itu tetapi semua kepala orang yg ada di
pohon tsb jadi menghilang, juga anjing dan ular yg tertelan pohon tsb. Semua orang
yg menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru hatimbulan:
potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari
orang-orang yg ditelan oleh pohon ini. Guru hatimbulan memotong batang pohon itu
menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tongkat dgn bentuk 5
orang lelaki, 2 orang anaknya, seekor anjing dan seekor ular.
Setelah selesai mengukit tongkat tsb menjadi 9 image, maka semua orang kembali
ke kampung guru hatimbulan, ketika mereka tiba di kampung ditandai dgn bunyigong, dan juga mengorbankan seekor lembu untuk menghormati mereka yg di ukir
dalam tongkat tsb. Setelah guru hatimbulan selesai manortor maka tongkat itu
diletakkan membelakangi muka lumbung padi. Setelah itu baru datu Parpansa
Ginjang manortor, melalui tortor ini dia kesurupan(siar- siaron) dirasuki roh-roh dari
orang2 yg ditelan pohon itu dan mulai berbicara satu-persatu, mereka adalah roh
dari:
1. Siaji Donda hatahutan
2. Siboru Tapi nauasan
3. Datu Pulo punjung nauli, si Melbuselbus
4. Guru manggantar porang
5. Sisanggar Maolaol
6. Siupar mangalele
7. Barita Songkar Pangururan
Dan mereka berkata, wahai bapak pemahat, kau telah membuat ukiran dari image
kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi
tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi
tidak bisa menggenggam. Kami mengutuk kamu, wahai pemahat!. Si datu
menjawab, jangan kutuk dia tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini dia tidak dapat
mengukir image kalian. Tetapi si pisau berbalik membalas, jangan kutuk aku, tetapi
kutuklah si tukang besi. Kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak
akan pernah menjadi pisau. Si tukang besi menjawab, jangan kutuk aku tapi
kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi. Angin menjawab, jangan
kutuk kami tapi kutuklah si Guru hatimbulan. ketika semua tertuju pada Guru
hatimbulan, maka roh itu berkata melalui si datu, ‘ aku mengutukmu, ayah dan juga
kamu Ibu, yaitu yang melahirkan aku’. Ketika Guru hatimbulan mendengar itu, dia
menjawab balik’ jangan kutuk aku tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau yang jatuh ke
dalam lubang dan terbunuh oleh pisau dan kamu tidak mempunyai keturunan.
Lalu Roh itu berkata ‘baiklah, biarlah begini adanya, ayah, dan gunakanlah aku ‘
untuk: menahan hujan, memanggil hujan pada waktu musim kering, senjata di
waktu perang, mengobati penyakit, menangkap pencuri. Dll. Setelah upcara itu,
maka pulanglah mereka masing2. adapun tinggi tongkat tunggal panaluan sekitar
170 cm. ada berbagai cerita ttg tunggal panaluan ini, versi lain akan dilanjutkan lain
waktu. (terjemahan bebas dari: Forgotten Kingdom in Sumatra , by. FM.Schitger,
1989).
Dari milis tetangga, kaskus dot us.
