Mungkin kita masih dibingungkan apa bedanya antara gondang bolon dan gondang sabungunan, dan itu sangat sering kita dengar dalam acara adat batak. Mungkin apabila ditanyakan, masih banyak yang bingung apakah keduanya sama atau beda.
Kebetulan saya membaca Majalah Budaya Batak “TAPIAN” beberapa saat yang lalu yaitu mengenai Gondang Bolon dan Gondang Sabangunan edisi Feb-Mar 2008. Disana dikatakan bahwa Gondang Bolon dan Gondang Sabangunan adalah sama.
Disana juga dikatakan bahwa Gondang Bolon menjadi denyut jantung, nadi dan nafas bagi orang Batak yang mengadakan berbagai macam upacara seperti:
- Horja Bius (upacara penolak bala bencana, memohon pasu-pasu Debata (berkah))
- Mangongkal holi-holi/saring-saring (mangangkat tulang-belulang nenek moyang)
- Sari matua / saor matua (wafat dan sudah mempunyai keturunan cucu atau buyut atau pun cicit)
Upacara mohon kesuburan atau panen raya.
Penghantar mantar-mantra untuk memanggil arwah-arwah para leluhur dan Gereja menolaknay berdasarkan efek trance (siar-siaran/kesurupan) yang ditimbulakn gondang itu.
Pada majalah ini juga dijelaskan mengenai tujuh repertoar yang akan membawa kita pada efek mediatif yang mempengaruhi denyut jantung serta kesadaran kita.
Ketujuh repertoar Gondang tersebut adalah:
- Gondang Mula-mula, gondang pembuka yang menyiratkan awal mula turunnya Debata Mula jadi na Bolon di Pusuk Buhit
- Gondang Somba-somba, sujud kepada Raja-raja Bius dan leluhur
- Gondang liat-liat, untuk melihat tanda-tanda alam
- Gondang Simonang-monang, sebagi bentuk pemujaan kepada Batar Guru atau Debata Sori
- Gondang Parsadaan, sebagi simbol persatuan
- Gondang Hasahatan, yang bermakna sampainya upacara adat pada penghujung acara, ketika ke-sepakatan adat sudah tercapai dan terpenuhi
- Gondang Sitio-tio, gondang yang menutup upacara, dengan harapan semua anggota keluarga mendapat kecerahan dan dijauhkan dari mara (becana = halangan)
Untuk lebih jelasnya dan lebih detail mengenai Gondang Bolon/Gondang Sabangunan dalam kehidupan orang Batak dahulu dan kini, dapat kita lihat dan baca pada majalah “TAPIAN”. Majalah ini merupakan majalah yang mengupas mengenai Budaya Batak.

mauliate da ito buat tulisaannya/wacananya.
soalna wacana seperti ini sangat membantu aq dalam kuliah. wawasan saya semakin bertambah tentang budaya dan kesenian Batak. aq kuliah di jurusan Antroplogi Budaya.
Mauliate da Ito
Natha br Hutapea
@natha
mauliate ma ito….nauli..
kalau bisa kita harus tetap menjaga budaya kita…terutama kebudayaan daerah..
oya ito ada yang kelupaan neh..
aq mau kasi usul..
gmn kalau aksara batak ditampilkan?
karena aksara batak bagus untuk dipelajari. trus itu warisan yang harus dilestarikan agar qt orang batak tidak kehilangan budaya seperti budaya lainnya.
mauliate godang da ito..
@natha
ok ito….
na denggan ma anggo inon.
Thanks buat masukannya..