Sekitar 2.000 lebih naskah asli adat Batak, 1.000 di antaranya terbuat dari kulit kayu, saat ini berada di negeri Belanda dan Jerman. Profesor Dr Uli Kozok MA dari University of Hawaii, Minoa, Amerika, di Medan, Kamis (8/7/2010), mengatakan, ribuan naskah asli adat Batak tersebut dibawa ke luar negeri ketika masa penjajahan Belanda dan masa Zending IL Nomensen di tanah Batak.
Uli Kozok, ahli linguistik Batak asal Jerman, telah melakukan serangkaian penelitian soal sastra Batak. Penelitian itu dilakukan Uli untuk desertasi doktoralnya di Universitas Hamburg.
Seorang mahasiswa Uli Kozok, Nelson Lumban Toruan, yang memiliki kepedulian terhadap naskah Batak mengatakan, aksara Batak yang kini dikenal masyarakat sudah berlainan variasinya. Variasi pertama aksara Batak adalah yang ditulis di berbagai naskah. Jika
ditulis pada kulit kayu, dikenal sebagai pustaha (pustaka) atau laklak. Naskah lain ditulis di tulang, biasanya di tulang kerbau dan bambu. Tak pernah ada yang tahu pasti kapan pertama kali naskah Batak ditulis.
“Sebagai gambaran, sejak tahun 1700-an, British Museum sudah memiliki koleksi naskah Batak. Itu pun tak diketahui kapan naskah itu dibuat,” kata Nelson.
Saat ini baru dua naskah yang bisa diakses untuk umum karena telah diolah dalam bentuk digital. Sedangkan naskah lainnya belum dapat diakses karena masih dalam bentuk asli dan dikhawatirkan akan rusak jika diakses untuk umum.
“Isinya pada umunya berupa instruksi atau tatacara upacara ritual keagamaan, cara mengalahkan musuh dalam peperangan, puisi-puisi cinta, dan tradisi, serta budaya Batak lainnya,” katanya.
Ribuan naskah tersebut lebih aman dan terjamin kelestariannya jika berada di luar negeri. Pasalnya, di luar negeri lebih kecil peluang naskah tersebut diperjualbelikan atau disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
“Selama ini di Indonesia banyak benda budaya yang seharusnya dirawat tetapi malah diperjualbelikan. Makanya lebih baik naskah-naskah asli tersebut lebih aman jika berada di luar negeri,” katanya.
Menurut ahli sejarah itu, pembuatan naskah dan budaya Batak dalam bentuk digital dewasa ini sangat diperlukan, mengingat setiap naskah yang berada di luar negeri itu tidak mudah dibawa kembali ke Indonesia.
“Kalau sudah dalam bentuk digital akan mudah diakses oleh siapa saja termasuk juga oleh ilmuan-ilmuan yang meneliti lebih jauh tentang adat-istiadat suku Batak,” katanya.(*)
sumber kompas

Saya pernah baca sebuah peranjian, tapi saya lupa bacanya dari buku mana….
Di buku tersebut, dikatakan bahwasanya belanda akan mengembalikan seluruh naskan Batak, ketika museum di balige di bagun.
Bahkan di buku tersebut saya membaca SELURUH NASKAH MILIK BUDAYA BUDAYA DI INDONESIA.
Namun sampai sekarang, saya belum mendapat sedikitpun informasi atas perjanjian pengembalian naskah tersebut.
Saya sangat sedih atas ketidak ikut campuran pemerintah dalam hal ini.
Peninggalan2 suku batak toba..segera pihak museum belanda menggembalikannya ketanah batak,agar kami orang batak dpt mengerti lebih lagi,tentang asal muasal batak jga budaya batak…
Kenapa Harianja tidak masuk dalam Pomparan Raja Sonang?
Di museum Smithsonian, Washington DC, AS, pemeliharaan naskah tua memerlukan teknologi dan biaya yang tinggi. Lagipun, udara di Eropa kurang lembab dibanding negara tropis seperti Indonesia, serangga juga lebih langka. Bayangkan, “Dead Sea Scroll” yang berusia ribuan tahun dan ditemukan gembala kambing Palestina di Israel dibawa ke AS untuk diawetkan, dipelihara dan diteliti. Oleh karena itu saya setuju kalau naskah-naskah Batak dibiarkan dulu di Eropa, menunggu kita mampu benar memeliharanya kelak.
Lagipun, kalau semuanya selesai nanti di-digitized, naskah tersebut akan accessible darimanapun di dunia, dan tidak akan lapuk.
suatu saat presiden dipilih suku batak…//amin