Archive for the ‘Batak’ Category

Enjoying ‘tuak’ in Batak country

Lively: Lapo tuak or foodstalls where tuak is served are popular gathering places in North Sumatra. They also serve a variety of snacks.Lively: Lapo tuak or foodstalls where tuak is served are popular gathering places in North Sumatra. They also serve a variety of snacks.

For the Batak community in North Sumatra, tuak (palm liquor) is not just for drinking binges. The beverage is mandatory at celebrations, and drinking tuak has become something of a tradition.

Five minutes past midnight a lapo tuak (tuak foodstall) is serving tuak in the Simalingkar area of Medan. A rectangular table was surrounded by five youths. Their eyes were beginning to redden but they weren’t babbling. They were talking about God.

“What makes you convinced Jesus is God?” one of them asked his friends. Before they replied, the discussion was interrupted by our arrival. When we said we wanted to discuss tuak, they warmly welcomed us and invited us to sit down.

“Just guess, how many glasses of tuak have I drunk?” asked a man in a green T-shirt with red eyes. Observing and counting the glasses scattered in front of him, I answered “five”. “More”, he said. Then the talk at the table veered to the traditional drink.

Key ingredient: After palm juice from trees in the forest is collected it is mixed with raru bark. Three hours later is will be tuak.Key ingredient: After palm juice from trees in the forest is collected it is mixed with raru bark. Three hours later is will be tuak.The five youth were ethnic Bataks belonging to different kinship groups. They said their affinity for tuak had been developing over a long period of time; it was during elementary school that they first tasted it.

As elementary school students they tried to drink the liquor stealthily to avoid their parents finding out. But when they grew up, they started to consume tuak regularly with no admonishment, they said.

The alcohol content of tuak varies because the drink is prepared without fixed scientific standards. “If I’m in an unstable condition, even drinking a glass may make me drunk. But when I’m normal, in the sense of mentally and physically healthy, drinking five glasses won’t make me drunk,” said one young man.

Precious liquid: Palm juice tapped from palm trees is poured into another container through a sieve.Precious liquid: Palm juice tapped from palm trees is poured into another container through a sieve.“This drink can make me drunk, so can whiskey, but I prefer tuak because it’s more natural. As far as I know, drinking it regularly will make us healthy, excessive drinking is uncouth,” said another youth.

Drinking tuak in Batak country is usually accompanied by a range of snacks. Bataks call such snacks tambul, and they can range from your usual varieties of nuts to crispy fried snake.

In North Sumatra, many regions produce the palm liquor. Torong, a village in Karo regency, is one of them. The village is not far from the town of Berastagi, around 15 minutes in the direction of Lake Lau Kawar.

In Torong, tuak stall owners sell the drink in large quantities, processing the tuak themselves. Nira (sugar palm) juice is the base for tuak, and is derived from palm trees in the forests near local residences.

At 8 a.m. and 4 p.m., paragat — the people who tap palm juice — in Torong enter the woods. They say these hours are the right moments to harvest.

“Around noon, the palm juice will taste sour,” said Marihot Purba, a tuak stall owner and paragat in Torong. Marihot has been making tuak for 12 years, always relying on his self-taught processing skills.

One morning, Marihot invited me to join him to see how palm juice was tapped. Exactly at 8 a.m. we left his stall. No equipment was carried apart from lunch boxes and a water container. Marihot’s dog, named Brown, accompanied us.

We crossed a river and walked along a one-kilometer-long path. The terrain wasn’t difficult, with few ascents. After about 15 minutes’ walk we reached Marihot’s plot. There was a small hut to keep his equipment. He entered the cabin to change clothes.

In harvesting palm juice, paragat believe they should always wear the same clothes, as they think by doing so the palm trees will recognize their owners and more juice will be obtained.

Marihot took the tools needed for tapping from the hut — a matchstick-shaped beater, bamboo containers, sieves and a dagger. He uses the beater to strike the stalks of palm fruits to be cut and the containers to collect the fluid.
Sampling: Marihot Purba, who produces tuak and runs a stall where the beverage is served, tastes a sample of the palm juice used to create the alcoholic beverage in the forest of Torong in North Sumatra.Sampling: Marihot Purba, who produces tuak and runs a stall where the beverage is served, tastes a sample of the palm juice used to create the alcoholic beverage in the forest of Torong in North Sumatra.

Before harvesting, Marihot noticed a palm fruit stalk that could produce juice. He climbed the palm tree with the aid of a bamboo stem. The stalk was struck with the beater, shaken and cut. The cut was smeared with soap to protect it from insects and covered with a tuber leaf. In two weeks, the stalk would again be cut by about 3 centimeters. The cut exuding fluid would later be fitted with a bamboo container to collect the juice that will flow for four months.

Then Marihot moved to another palm tree, this time for harvesting. The bamboo container already filled with fluid was taken down and replaced with an empty one. “It’s quite a lot,” he told me, displaying the contents. The approximately four liters of palm juice in the bamboo tube was then poured into another container through a sieve.

The palm sap harvest was then mixed with raru bark. Three hours later it would be tuak with its sweet flavor, a bit sticky and strong yet refreshing. The alcohol content, sweetness and viscosity depend on the processing and the amount of raru mixed with the liquid.

Tuak lovers believe that the traditional beverage keeps the body warm, and can heal diabetes and remove kidney stones.

In North Sumatra, tuak isn’t just found in lapo tuak, but is served at practically every celebration. So for Bataks, drinking tuak has become a tasty tradition.

— Photos by Andika Bakti

sumber:  thejakartapost.com 

Read Full Post »

Dalam tahun ke-10 s.M. tulisan silabis orang Fenesia itu dipinjam oleh orang Yunani. Tetapi, karena bahasanya berlainan sifat silabisnya akhirnya ditinggalkan dan orang Yunani mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis, yaitu dengan mengambarkan setiap konsonan dan vokal dengan satu huruf. Aksara Yunani ini kemudian diambil alih oleh orang Romawi dan dalam abad-abad pertama Masehi aksara Romawi atau Latin ini menyebar ke seluruh dunia dan sampai ke Indonesia sekitar abad ke-16 bersamaan dengan penyebaran agama Kristen. Aksara Romawi ini sampai sekarang masih dipakai.

Jauh sebelum aksara Romawi dikenal di Indonesia pelbagai bahasa di Indonesia ini sudah mengenal aksara yaitu aksara yang dikenal dalam Bahasa Jawa, Sunda, Madura, Bali, Sasak, Lampung, Bugis Makasar, dan Batak. Jenis aksara ini diturunkan dari aksara Pallawa dipakai di India Selatan dalam abad ke-4 M. yang disebarkan di Indonesia bersamaan dengan penyebaran agama Hindu dan Budha. Aksara Pallawa sendiri diturunkan dari tulisan Brahmi yang asal-usulnya dapat ditelusuri ke tulisan Semit. Jadi aksara India itu sebenarnya seasal dengan aksara Ibrani, Parsi, dan Arab.

Kedatangan agama Islam di Indonesia menyebabkan tersebamya aksara Arab. Aksara Arab yang dikenal di Indonesia berlainan sedikit daripada aksara Arab di negeri Arab, karena mendapat pengaruh dari aksara Arab-Parsi. Aksara Arab yang dipakai dalam Bahasa Melayu dikenal sebagai aksara Jawi. Bahasa Jawa juga mempergunakan tulisan Arab khususnya yang dipakai dalam karya-karya yang bersangkutan dengan agama Islam. Tulisan Arab untuk Bahasa Jawa ini dikenal sebagai aksara Pegon.

Silsilah beberapa jenis aksara

Silsilah beberapa jenis aksara

Bagan 1 masih berhubungan dengan bagan 2, sehingga dapatlah dilihat bahwa aksara itu mempunyai perjalanan yang cukup panjang. Hal ini terbukti dari bagan 1 dan bagan 2

Silsilah aksara batak

Menurut N. Siahaan (1964:115), bahwa Sastra tulis telah lama ada, diduga sejak abad ke-13, yaitu dengan adanya “aksara Batak yang berasal dari aksara Jawa Kuna melalui aksara Sumatera Kuna”, sesudah Singosari mengirimkan tentaranya ke Jambi di Sumatera Tengah.

Sastra tulis itu adalah berupa ilmu perbintangan atau astronomi, tarombo atau silsilah, ramuan pengobatan tradisionil, turi-turian yang bersifat mythe atau dongeng. Cerita-cerita itu ditulis dengan aksara Batak Toba pada kulit kayu yang lebarnya dapat dilipat. Tulisan pada kulit kayu itu disebut pustaha ‘pustaka’ yang sekarang ini sulit ditemukan. “Seperti diterangkan di atas bahwa tidak ada seorang ahli yang dapat mengetahui dari mana asal muasal aksara Batak.” Namun, manusia hanya dapat mengira-ngira atau menghubung-hubungkan sejarah terjadinya aksara di muka bumi ini. Tetapi secara linguistik dapat dikaji bahwa aksara itu bermula dari “aksara Hieroglif Mesir”, dan turun temurun sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu (lihat bagan di atas).  (bersambung)

Sumber: Artikel Latar Belakang Sejarah Aksara Batak
Pengarang : tidak disebutkan

Read Full Post »

Tulisan atau artikel di bawah ini adalah cerita mengenai “Latar Belakang Sejarah Aksara Batak” yang penulisnya tidak disebutkan namun menurut saya isi artikel tersebut sangat baik sekali dan kita lebih tahu secara mendalam mengenai aksara batak dan latarbelakangnya. Terimakasih untuk orang yang membuat artikel ini dan mohon izin mempublikasikannya.

Dalam masyarakat, bahasa sering dipergunakan dalam pelbagai konteks dengan pelbagai macam makna. Ada orang yang berbicara tentang “bahasa warna”, tentang “bahasa bunga”, tentang “bahasa diplomasi”, tentang “bahasa militer”, dan sebagainya. Di samping, itu dalam kalangan terbatas, terutama dalam kalangan orang yang membahas soal-soal bahasa, ada yang berbicara tentang “bahasa tulisan”, “bahasa lisan”, “bahasa tutur”, dan sebagainya.

Bahasa adalah sistem bunyi, jadi bahasa adalah apa yang dilisankan orang. Tulisan sebagai wahana bahasa perlu sekali dari awal dipahami secara tepat, karena sampai sekarang masih banyak orang menyangka bahwa tanpa tulisan. tidak ada bahasa, padahal banyak sekali bahasa di dunia ini yang tidak mempunyai sistem tulisan. Anak-anak pun sudah pandai berbicara sebelum mereka belajar menulis. Sebaliknya masih banyakjuga orang yang menyangka bahwa linguistik mengabaikan tulisan, padahal penyelidikan linguistik mengenai sistem tulisan sudah lama dilakukan orang (Kridalaksana, 1990:89-92).

Sistem tulisan atau aksara ciptaan manusia yang paling berguna. Dengan tulisan manusia dapat menembus batas-batas waktu dan ruang. Ingat manusia itu pendek: dengan tulisan manusia dapat menyimpan kekayaan akal budinya. Bahasa dan kehidupan masyarakat dapat dibaca betapa tulisan menyebabkan adanya fungsi bahasa yang beraneka warna.

Sejarah Aksara

Sulit sekali sekarang ini untuk mengetahui kapan manusia pertama kali mempergunakan tulisan. Para ahli linguistik pada umumnya mengira tulisan tumbuh dari gambar seperti yang kita temukan di gua Altamira di Spanyol Utara. Pada waktu kemudian gambar-gambar itu sungguh-sunguh menjadi tulisan, atau piktogram. Berlainan dengan tulisan modern, piktogram. secara langsung menggambarkan benda yang dimaksud. Contoh piktogram berikut kita ambil dari sejarah tulisan Cina:

piktogram sejarah tulisan Cina

piktogram sejarah tulisan Cina

Tulisan piktogram dipakai di kalangan orang-orang Indian Amerika, orang Yukagir di Siberia dan juga dapat ditemukan di pulau Paska (Pasifik Timur). Dalam zaman modern pun piktogram masih dipakai dalam tanda lalu lintas internasional, dan pada tanda-tanda kamar kecil untuk laki-laki dan untuk perempuan.

Pada suatu saat, piktogram tidak hanya menunjukkan gambar benda yang, dimaksud melainkan juga sifat-sifat benda itu atau konsep-konsep yang berhubungan dengan benda itu; misalnya dalam tulisan hieroglif di Mesir (dipakai sekitar 4000 tahun s.M).

Kebenaran itu dapat di lihat, yaitu gambar tongkat dari Firaun berarti ‘memerintah’ lihat gambar di bawah ini.

tongkat dari Firaun

tongkat dari Firaun

Gambar kedua ini adalah gambar air keluar dari kendi berarti ‘segar’ atau ‘dingin’. Piktogram yang menggambarkan gagasan dan bukan benda seperti hieroglif Mesir Kuna itu disebut ideogram. Hal itu dapat dilihat pada gambar kedua di bawah ini.

tongkat dari Firaun

air keluar dari kendi

Dalam sejarah yang panjang piktogram atau ideogram itu disederhanakan sehingga tidak tampak lagi hubungan antara gambar dan apa yang dimaksud. Salah satu contoh dapat dilihat dari aksara paku, yang dipergunakan oleh bangsa Sumoria pada 4000 tahun s.M.

Sistem tulisan Sumeria tersebut kemudian diambil alih oleh orang Persia, yaitu pada tahun (600-400 s.M), tetapi tidak untuk menggambarkan atau gagasan atau kata melainkan untuk menggambarkan suku kata. Sistem yang demikian disebut aksara silabis.

Dalam waktu yang hampir bersamaan orang Mesir mengembangkan juga tulisan yang menggambarkan suku kata. Aksara silabis ini mempengaruhi sistem tulisan bangsa-bangsa lain termasuk bangsa Fenesia yang hidup di Pantai Timur Laut Tengah (sekarang disebut Libanon). Pada sekitar tahun 1500 s.M. aksara Fenesia membuat 22 suku kata. Dalam sistem ini setiap tanda melambangkan satu konsonan diikuti oleh satu vokal. (bersambung)

Sumber: Artikel Latar Belakang Sejarah Aksara Batak

Pengarang : tidak disebutkan

Read Full Post »

Older Posts »


Get every new post delivered to your Inbox.