Feeds:
Tulisan
Komentar

Toba Lover, sebuah komunitas pencinta lingkungan Danau Toba di Facebook, menggelar lomba karya tulis bertema Danau Toba Yang Kucinta berhadiah total Rp25 juta khusus bagi pelajar SMP dan SMA sederajat di tujuh kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Batas akhir pengiriman artikel lomba pada 1 Oktober 2009.

Ketua panitia lomba karya tulis Toba Lover, Robert Manurung, kepada Blog Berita menyampaikan hari ini, ketujuh daerah yang bisa mengikuti kontes menulis Danau Toba Yang Kucinta adalah kabupaten yang berada di sekitar Danau Toba. Yaitu Kabupaten Toba Samosir, Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Simalungun, dan Kabupaten Tanah Karo.

Ketentuan lomba karya tulis Danau Toba Yang Kucinta dari TobaLover

I.Kategori: SMP & SMU sederajat.

II. Syarat-syarat lomba:

1. Terbuka untuk pelajar SLTP (Kategori 1), pelajar SLTA (Kategori 2) yang masih aktif sebagai siswa pada sekolah-sekolah terdaftar di 7 kabupaten sebagai berikut : Tanah Karo, Simalungun, Samosir, Tobasa, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan Dairi.

2. Lomba dimulai tanggal 21 Agustus 2009 dan ditutup pada tanggal 1 Oktober 2009.

3. Setiap peserta hanya diperkenankan mengirimkan 1 (satu) karya tulis untuk dilombakan.

4. Peserta bebas membuat judul sendiri, namun harus menuliskan di dalam naskah mana yang dipilih menjadi acuan di antara tema dan subtema di bawah ini :

Tema: Danau Toba Yang Kucinta

Subtema:

  • a. Yang harus kulakukan supaya hutan di sekitar Danau Tobaku tidak semakin gundul.
  • b. Yang harus kulakukan supaya Danau Tobaku tidak menjadi tempat
    sampah dan airnya tidak semakin gatal.
  • c. Tak akan kubiarkan Danau Tobaku kering.

5. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Diperkenankan menggunakan seperlunya istilah bahasa Batak dan harus ditulis miring atau italic.

6. Naskah harus asli (bukan jiplakan atau saduran). Keaslian karya tulis menjadi pertimbangan utama Dewan Juri dalam menyeleksi dan menentukan pemenang.

7. Artikel diketik atau di-print out dalam kertas ukuran A4, dengan spasi 1,5 dan menggunakan jenis huruf (font) Times New Roman ukuran 12, dengan margin rata di sebelah kiri dan kanan (justified).

8.Panjang naskah karya tulis antara 6-10 halaman ketikan atau print out; masing-masing rangkap 3 (tiga).

9.Naskah karya tulis harus disertai lampiran berupa :
a. biodata dan foto peserta
b. Fotocopy kartu pelajar/surat keterangan dari guru wali kelas.
c. Alamat sekolah secara lengkap, disertai nomor telepon jika ada.
d. Alamat rumah peserta dengan disertai nomor telepon yang dapat dihubungi sewaktu-waktu.

III. Ketentuan pengiriman naskah :
1.Naskah beserta lampirannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup. Cantumkan kategori peserta dan kabupaten tempat sekolahnya, contoh “Kategori 1/Tapanuli Utara” di sebelah kanan atas amplop, dan kirimkan melalui pos ke :

Panitia Lomba Karya Tulis “Danau Toba Yang Kucinta”
Komplek Deli Sejahtera Blok XIII Nomor 122,
Pasar V Marelan, Medan 20256.

2. Naskah yang berhak ikut lomba adalah yang dikirimkan paling lambat tanggal 1 OKtober, dibuktikan dengan cap pos.

IV. Hadiah bagi para pemenang :
1. Total Hadiah yang akan diperebutkan senilai Rp 25.000.000-
2. Karya tulis para pemenang akan dipublikasikan di surat kabar yang terbit di Sumatera Utara dan di website tobalover.com.

V. Ketentuan lain
Setiap naskah karya tulis yang ikut dilombakan menjadi milik Panitia, namun hak cipta tetap milik peserta. Panitia berhak menerbitkan karya-karya yang dilombakan tanpa memerlukan ijin atau persetujuan dari peserta.

VI.Pengumuman pemenang & penyerahan hadiah
1.Pemenang Lomba Karya Tulis “Danau Toba Yang Kucinta” akan diumumkan tanggal 22 Oktober 2009 melalui website tobalover.com, media cetak, dan radio.
2.Panitia akan mengirimkan surat pemberitahuan resmi kepada setiap pemenang yang kemudian harus ditunjukkan oleh yang bersangkutan pada saat penyerahan hadiah.
3. Penyerahan hadiah bagi para pemenang akan dilaksanakan bertepatan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 2009. Cara dan tempat penyerahan hadiah akan diumumkan kemudian.

Kontak panitia lomba:
email: panitia@tobalover.com
tobalovers@yahoo.com

Robert Manurung mengatakan, ketua dewan juri lomba menulis Danau Toba Yang Kucinta adalah penulis novel Sordam, Suhunan Situmorang, dan sekretaris dewan juri Toga Nainggolan, wartawan-blogger kawakan.

Dalam lomba ini peserta diminta memaparkan peranan nyata yang dapat mereka lakukan guna mengatasi tiga masalah besar yang menyebabkan krisis lingkungan di Danau Toba dan sekitarnya. Ketiga masalah besar itu adalah penggundulan hutan yang mengakibatkan kian menipisnya daerah tangkapan air, kebiasaan penduduk membuang sampah ke danau, dan pencemaran air danau oleh limbah pakan ikan dari kerambah apung yang kian menjamur di sana.

“Kita menyadari upaya penyelamatan Danau Toba tidak akan berhasil selama penduduk setempat hanya sebagai penonton atau pelengkap penderita seperti selama ini,” kata Robert Manurung dari Komunitas Toba Lover.

Sumber blogberita

View dari Dolok Tolong
View dari Dolok Tolong

Dolok Tolong mungkin tidak asing lagi kita bagi yang tinggalnya di daerah Toba Samosir, apalagi yang berada di Balige sekitarnya. Dolok Tolong merupakan dolok atau bukit tertinggi yang ada didataran Tobalah dibilang dan dari Dolok ini, sisi keindahan Toba bisa kita nikmati dan pemandangan yang diberikan sangat wah. Sungguh indah sekali, bayangkan danau Toba dengan bukit barisannya bserta Pulau Samosir beserta hamparan hijau sawah serta rumah-rumah penduduk yang berjajar mengikuti arah jalan. Mantap deh… Coba naik kesana dan rasakan kenikmatannya. Kalau kamu orang Balige atau sekolah di Balige dan tidak pernah naik kesana, wah.. kasihan kalilah kita ini. Orang pacaran aja mau ke dolok tolong, asyik kali, sambil melihat pemandangan alam. Kalau naik ke atas dan jalan kaki, jangan lupa bawa bekal diperjalanan pergi dan pulang serta diatas. Dan bersiap-siaplah mengeluarkan peluh menundukkan ketinggian Dolok tersebut. Bisa dua jam naik ke atas kalau jalan kaki, itu uda jalan terus dan jalannya uda normallah dibilang. Tapi kalo pakai kendaraan ga sampai se gitu lamalah. :)

Dibalik itu semua, di Dolok Tolong ini terdapat sebuah sumur yang dulunya adalah milik Sisingamangaraja dan tidak jarang banyak sekali orang datang kesini untuk ziarah dan mengambil air sumur tersebut. Cukup mistis bukan, dipuncak bukit ada sumur. Apalagi waktu pemilihan anggota legislatif kemarin, bendera dan gambar-gambar caleg banyak  yang dibuat disana. Minta doa restu mungkin dan supaya menang dalam pemilihan tersebut. Mungkin aja kali dan munngkin tidak…. Mengenai sejarahnya kurang tahu juga nih, dan cari-cari ceritanya dan dapat.

Beginilah cerita mengenai prasasti dolok Tolong tersebut dulunya, sumbernya uda macam-macam:

Tidak banyak literatur yang membahas eksistensi prasasti Dolok Tolong di Balige, Kabupaten Toba Samosir ini. Seperti prasasti dan inskripsi lain yang berada di Tanah Batak di Tapanuli, prasasti Dolok Tolong seakan tenggelam dengan eksistensi ribuan prasasti di Indonesia. Walaupun prasasti ini tidak akan berpengaruh besar terhadap sejarah Indonesia secara keseluruhan, namun diyakini keanehan tetap ada karena prasasti ini tepat berada di sekitar jantung Tanah Batak. Bahkan Balige merupakan pusat perdagangan kerajaan Batak sejak dahulu kala dengan istilahnya; ‘Onan Bolon’.

Di Onan Bolon inilah berbagai bentuk hukum dan konstitusi diamandemen dengan keterlibatan langsung rakyat dan masyarakat yang juga memanfaatkan onan sebagai pusat transaksi dagang yang memang menjadi tujuan utama.

Prasasti Dolok Tolong ini seakan menjelaskan sekali lagi pluralisme masyarakat Tapanuli dan Batak yang menjadi cikal bakal budaya toleransi dan tenggang rasa yang tinggi yang dianut oleh setiap orang Tapanuli sampai sekarang ini. Sikap itu tampak dari bentuk pemikiran yang terbuka atas segala bentuk ide dan konsep. Tentunya, terdapat juga kemungkinan adanya bagian kecil orang Batak yang berpikiran picik seperti halnya di berbagai tempat lainnya di Indonesia.

Tapanuli, seperti halnya daerah lain di Indonesia, merupakan daerah yang juga banyak mendapat pengaruh dari dunia luar. Beberapa manuskrip kuno seperti Sejarah Raja-jara Barus, Hikayat Raja Tuktung dan Hikayat Hamparan Perak dan lain sebagainya, banyak menceritakan struktur masyarakat dan sosial Batak di zaman dahulu. Baik itu penjelasan mengenai saat-saat pembentukan sistem hukum dan perundangan-undangan maupun penjelasan mengenai peran orang Batak sebagai penyebar agama Islam di sekitar daerah yang sekarang menjadi bagian dari Sumatera Utara.

Dari berbagai manuskrip itu didapat sejarah Kerajaan Balige di tahun 1500-an yang saat itu diperintah oleh putra bungsu dari Si Raja Hita, putera Sisingamangaraja I yang menghilang dari Bakkara. Abang sulung dari Raja Balige tersebut bernama Guru Patimpus, seorang Raja dan Ulama, yang kemudian bermigrasi ke pesisir Timur Sumatera. Dia, yang memiliki anak-anak yang hafizd al-Qur’an, dikenal sebagai pendiri Kota Medan di tahun 1590.

Selain bukti sejarah tersebut, eksistensi prasasti Dolok Tolong diyakini merupakan bukti utama atas persinggungan budaya Batak dengan peradaban Hindu dan Buddha di Indonesia.

Menurut berbagai literatur yang secara terpecah-pecah menyinggung bukti sejarah ini, prasati ini merupakan prasasti atas eksistensi orang Majapahit di Tanah Batak. Saat itu, pasukan marinir Majapahit mengalami kekalahan pahit di Selat Malaka. Melalui sungai Barumun mereka menyelamatkan diri ke daratan Sumatera sampai ke suatu daerah di Portibi. Di sana, mereka dicegat masyarakat sehingga membuat mereka terpaksa melanjutkan pelarian sampai ke Bukit Dolok Tolong di Balige. Di Gunung inilah mereka meminta suaka politik kepada seorang Raja di tempat dari sub-rumpun marga Sumba (Isumbaon) yang saat itu menguasai wilayah tersebut.

Dolok Tolong, yang juga dikenal dengan nama Tombak Longo-longo Sisumbaon, ini merupakan sebuah pegunungan yang lumayan tinggi, dari puncaknya pandangan dapat di arahkan ke tanah Asahan, Labuhan Batu dan Angkola Sipirok dengan pemandangan yang sangat mempesona.

Diceritakan, seorang Pangeran yang mempimpin pelarian tersebut akhirnya memerintahkan untuk membuat prasasti tersebut sebagai sebuah hasil penjanjian dengan Raja dari marga Sumba tersebut dimana mereka diijinkan untuk tinggal di wilayah itu.

Pendapat lain mengatakan bahwa Pangeran tersebut juga menikahkan seorang putri yang ikut dalam rombongan pelarian kepada seorang raja Batak di tempat. Putri tersebut bernama Si Boru Baso Paet. Ada yang menafsirkan bahwa Si Boru Paso Paet sebenarnya merupakan perusakan kata dari Si Boru Majapahit yang artinya Srikandi Majapahit.

Lebih jauh lagi ada pula yang mengatakan bahwa Si Boru Baso Paet itulah yang menjadi nenek moyang orang Batak. Namun keterangan ini menjadi membingungkan karena eksistensi orang Batak di berbagai literatur telah ada berabad-abad sebelumnya dan bahkan ada pada ke-2 M telah berinteraksi dengan pelaut asing seperti yang diceritakan oleh Ptolemeus, tapi dengan nada negatif.

Tapi bila dilihat dari nama penamaan tempat itu oleh orang setempat, Tombak Longo-longo Sisumbaon, ada kemungkinan bahwa bukit tersebut merupakan pusat religi kaum animisme dan paganisme Batak dahulu kala. Arti harfiah dari kalimat tersebut adalah Hutan Rimba Yang Menjadi Tempat Persembahan. Eskistensi nama tempat ini sepertinya mirip dengan nama Dolok Partangisan di sebuah daerah antara Dolok Sanggul dan Tele yang merupakan tempat tradisional untuk memberikan sesajen berupa manusia (korban) untuk memuja roh atau dikenal dengan istilah mamele begu.

Yang sangat disayangkan adalah tidak adanya sebuah penelitian yang menyeluruh atas apa isi dan arti sebenarnya dari tulisan atau tanda yang terdapat di prasasti tersebut. Bukan tidak mungkin, selain dari dugaan kedatangan orang Majapahit, sebenarnya terdapat bentuk kebudayaan di Balige yang selama ini tidak dikenal. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Tentu yang paling disayangkan lagi adalah rendahnya peran pemerintah daerah dalam menghormati eksistensi bukti-bukti sejarah ini. Padahal tidak sedikit dana APBD dikucurkan untuk membangun objek-objek wisata, konvensional maupun rohani, yang tampaknya sangat berlebihan dan terkesan mubazzir serta tidak produktif. Pemerintah seharusnya tidak terjebak dalam sebuah kebijakan yang malah menghilangkan nilai-nilai pluralisme budaya dan adat.

Bukan tidak mungkin apabila prasasti ini dapat diungkap lebih mendalam lagi, banyak kearifan lokal yang banyak diambil hikmahnya oleh generasi muda sekarang ini.

Kalau kita berbicara tentang kematian, secara tidak langsung itulah yang ditunggu-tunggu manusia yang sadar bahwa tanpa kematian tidak ada proses pada kehidupan yang kekal dan abadi. Kematian itu adalah proses alami yang harus berlaku bagi setiap manusia yang beragama (menurut kepercayaan), dan khususnya Dalihan Natolu, mempunyai arti tersendiri sehingga tidak lepas dari bagian Adat dan Budaya Batak.

Dalam hal ini kita dapat mengamati pada acara dan Upacara yang berlaku di masyarakat Dalihan Natolu khususnya di Jabotabek dalam segala usia dan menurut kebiasaan yang dilakukan. Oleh karena itu perlu kita ajukan suatu acuan pedoman yang diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat Dalihan Natolu dalam pelaksanaan Adat kematian dimasa mendatang.

Kita dapat membedakan Adat Kematian dalam masyarakat Dalihan Natolu berdasarkan agama (dapat dijelaskan secara singkat). Macam atau Ragam Adat bagi warga yang meninggal dunia:

  1. TILAHA : Kematian bagi warga Dalihan Natolu berkeluarga yang biasa disebut NAPOSO dalam hal ini perlakuan.
  2. PONGGOL ULU (SUAMI) : Kematian yang diakibatkan si suami lebih dahulu meninggal dunia daripada si istri, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.
  3. MATOMPAS TATARING (ISTRI) : Kematian yang diakibatkan si istri lebih dahulu meninggal daripada si suami, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.
  4. SAUR MATUA : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang sudah mempunyai cucu dan semua anak-anaknya sudah berkeluarga.
  5. MATUA BULUNG : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang telah mempunyai cucu bahkan sudah mempunyai cicit atau disebut Nini/Nono dengan lanjut usia.
  6. Nini : Disebut keturunan dari anak laki-laki.
  7. Nono : Disebut keturunan dari anak perempuan.

Bagaimanakah hubungannya kematian tersebut dengan Adat Dalihan Natolu, dalam hal ini lebih dahulu kita harus mengetahui yang meninggal termasuk golongan mana dari Ragam kematian tersebut diatas untuk menempatkan Adat juga hubungannya dengan Ulos.

Dalihan Natolu mempunyai 3 hal yang berhubungan dengan Ulos:

  1. Pemberian ULOS SAPUT, Ulos ini diberikan kepada yang meninggal dunia sebagai tanda perpisahan. Siapakah yang berhak memberikan SAPUT tersebut, dalam hal ini perlu kita mempunyai satu persepsi untuk masa yang akan datang karena hal ini banyak berbeda pendapat menurut lingkungannya masing-masing, misalnya HULA-HULA/TULANG.
  2. Pemberian ULOS TUJUNG, Dalam hal ini semua dapat menyetujui dari pihak HULA-HULA.
  3. Pemberian ULOS HOLONG.

Dari semua pihak Hula-hula, Tulang Rerobot bahkan Bona ni Ari termasuk dari Hula-hula ni Anak Manjae/Hula-hula ni na Marhaha Maranggi, berhak memberikan kepada Keluarga yang meninggal.

Bagaimanakah hubungannya dengan Adat Dalihan Natolu diluar Ulos tersebut yang mempunyai harga diri (dalam Pesta Adat). Dalam hal ini terjadilah beberapa pelaksanaan setelah adanya Musyawarah atau lazim disebut RIA RAJA oleh beberapa Dalian Natolu disebut Boanna. Boan ini (yang dipotong pada hari Hnya) terdiri dari beberapa macam, misalnya:

  1. Babi/Kambing, disebut Siparmiak-miak
  2. Sapi, disebut Lombu Sitio-tio
  3. Kerbau, disebut Gajah Toba

Sesuai dengan Adat Dalihan Natolu tingkatan daripada Boan tersebut disesuaikan dengan Parjambaron.

Fungsi Dalihan Natolu menggunakan istilah Adat :

  • Pangarapotan : Adalah suatu penghormatan kepada yang meninggal yang mempunyai gelar Sari Matua dan lain-lain sebelum acara besarnya dan penguburannya atau dihalaman (bilamana memungkinkan). Dalam hal ini suhut dapat meminta tumpak (bantuan) secara resmi dari family yang tergabung dalam Dalihan Natolu disebut Tumpak di Alaman.
  • Partuatna : hari yang dianggap menyelesaikan Adat kepada seluruh halayat Dalihan Natolu yang mempunyai hubungan berdasarkan adat. Pada waktu pelaksanaan ini pulu Suhut akan memberikan Piso-piso/situak Natonggi kepada kelompok Hula-hula/Tulang yang mana memberikan Ulos tersebut diatas kepada yang meninggal dan keluarga dan pemberian uang ini oleh keluarga tanda kasihnya.. Juga pada waktu bersamaan ini pula dibagikan jambar-jambar sesuai dengan fungsinya masing-masing dengan azas musyawarah sebelumnya, setelah itu dilaksanakanlah upacara adat mandokon hata dari masing-masing pihak sesuai dengan urutan-urutan secara tertulis. Setelah selesai, bagi orang Kristen diserahkan kepada Gereja (Huria) untuk seterusnya dikuburkan.

ni enet sian hutanamidotcom

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »