Lively: Lapo tuak or foodstalls where tuak is served are popular gathering places in North Sumatra. They also serve a variety of snacks.Lively: Lapo tuak or foodstalls where tuak is served are popular gathering places in North Sumatra. They also serve a variety of snacks.

For the Batak community in North Sumatra, tuak (palm liquor) is not just for drinking binges. The beverage is mandatory at celebrations, and drinking tuak has become something of a tradition.

Five minutes past midnight a lapo tuak (tuak foodstall) is serving tuak in the Simalingkar area of Medan. A rectangular table was surrounded by five youths. Their eyes were beginning to redden but they weren’t babbling. They were talking about God.

“What makes you convinced Jesus is God?” one of them asked his friends. Before they replied, the discussion was interrupted by our arrival. When we said we wanted to discuss tuak, they warmly welcomed us and invited us to sit down.

“Just guess, how many glasses of tuak have I drunk?” asked a man in a green T-shirt with red eyes. Observing and counting the glasses scattered in front of him, I answered “five”. “More”, he said. Then the talk at the table veered to the traditional drink.

Key ingredient: After palm juice from trees in the forest is collected it is mixed with raru bark. Three hours later is will be tuak.Key ingredient: After palm juice from trees in the forest is collected it is mixed with raru bark. Three hours later is will be tuak.The five youth were ethnic Bataks belonging to different kinship groups. They said their affinity for tuak had been developing over a long period of time; it was during elementary school that they first tasted it.

As elementary school students they tried to drink the liquor stealthily to avoid their parents finding out. But when they grew up, they started to consume tuak regularly with no admonishment, they said.

The alcohol content of tuak varies because the drink is prepared without fixed scientific standards. “If I’m in an unstable condition, even drinking a glass may make me drunk. But when I’m normal, in the sense of mentally and physically healthy, drinking five glasses won’t make me drunk,” said one young man.

Precious liquid: Palm juice tapped from palm trees is poured into another container through a sieve.Precious liquid: Palm juice tapped from palm trees is poured into another container through a sieve.“This drink can make me drunk, so can whiskey, but I prefer tuak because it’s more natural. As far as I know, drinking it regularly will make us healthy, excessive drinking is uncouth,” said another youth.

Drinking tuak in Batak country is usually accompanied by a range of snacks. Bataks call such snacks tambul, and they can range from your usual varieties of nuts to crispy fried snake.

In North Sumatra, many regions produce the palm liquor. Torong, a village in Karo regency, is one of them. The village is not far from the town of Berastagi, around 15 minutes in the direction of Lake Lau Kawar.

In Torong, tuak stall owners sell the drink in large quantities, processing the tuak themselves. Nira (sugar palm) juice is the base for tuak, and is derived from palm trees in the forests near local residences.

At 8 a.m. and 4 p.m., paragat — the people who tap palm juice — in Torong enter the woods. They say these hours are the right moments to harvest.

“Around noon, the palm juice will taste sour,” said Marihot Purba, a tuak stall owner and paragat in Torong. Marihot has been making tuak for 12 years, always relying on his self-taught processing skills.

One morning, Marihot invited me to join him to see how palm juice was tapped. Exactly at 8 a.m. we left his stall. No equipment was carried apart from lunch boxes and a water container. Marihot’s dog, named Brown, accompanied us.

We crossed a river and walked along a one-kilometer-long path. The terrain wasn’t difficult, with few ascents. After about 15 minutes’ walk we reached Marihot’s plot. There was a small hut to keep his equipment. He entered the cabin to change clothes.

In harvesting palm juice, paragat believe they should always wear the same clothes, as they think by doing so the palm trees will recognize their owners and more juice will be obtained.

Marihot took the tools needed for tapping from the hut — a matchstick-shaped beater, bamboo containers, sieves and a dagger. He uses the beater to strike the stalks of palm fruits to be cut and the containers to collect the fluid.
Sampling: Marihot Purba, who produces tuak and runs a stall where the beverage is served, tastes a sample of the palm juice used to create the alcoholic beverage in the forest of Torong in North Sumatra.Sampling: Marihot Purba, who produces tuak and runs a stall where the beverage is served, tastes a sample of the palm juice used to create the alcoholic beverage in the forest of Torong in North Sumatra.

Before harvesting, Marihot noticed a palm fruit stalk that could produce juice. He climbed the palm tree with the aid of a bamboo stem. The stalk was struck with the beater, shaken and cut. The cut was smeared with soap to protect it from insects and covered with a tuber leaf. In two weeks, the stalk would again be cut by about 3 centimeters. The cut exuding fluid would later be fitted with a bamboo container to collect the juice that will flow for four months.

Then Marihot moved to another palm tree, this time for harvesting. The bamboo container already filled with fluid was taken down and replaced with an empty one. “It’s quite a lot,” he told me, displaying the contents. The approximately four liters of palm juice in the bamboo tube was then poured into another container through a sieve.

The palm sap harvest was then mixed with raru bark. Three hours later it would be tuak with its sweet flavor, a bit sticky and strong yet refreshing. The alcohol content, sweetness and viscosity depend on the processing and the amount of raru mixed with the liquid.

Tuak lovers believe that the traditional beverage keeps the body warm, and can heal diabetes and remove kidney stones.

In North Sumatra, tuak isn’t just found in lapo tuak, but is served at practically every celebration. So for Bataks, drinking tuak has become a tasty tradition.

— Photos by Andika Bakti

sumber:  thejakartapost.com 

Balige, Sumut (ANTARA News) – “Sangkamadeha” diartikan sebagai pengekspresian hidup dan kehidupan manusia dalam dunia nyata dengan segala kebanggaan dirinya.

Budayawan dari kabupaten Toba Samosir, Monang Naipospos, menuturkan, “sangkamadeha” merupakan penggambaran pohon kehidupan pemberian sang pencipta (Mulajadi Nabolon) kepada manusia.

Sejak muda hingga tua, pohon ini tumbuh tegak lurus dan tajuknya “sundung” (menuju) langit.

Hidup di dunia dalam pertengahan usia adalah perkembangan sangat subur dan optimal, berkaya-nyata untuk dirinya dan orang lain.

“Hasangapon, hagabeon dan hamoraon, adalah gambaran kesuburan yang dinikmati atas karunia sang khalik, “ujar Monang.

Biji berkecambah, tumbuh tunas, kemudian mekar. Dahan mengembang ke samping dan ke segenap penjuru angin, bagaikan tangan-tangan membentang (mandehai). Tumbuh makin matang (matoras) dan semakin kuat (pangko).

Dalam bahasa Batak, Monang menyebutnya,”torasna jadi pangkona”, diartikan sebagai kedewasaan yang dibarengi kebiasaan-kebiasaan hidup yang menjadi tabiat. Dalam kiasan (umpasa) Batak disebut “torasna jadi pangkona, somalna jadi bangkona”.

Menjelang ujur, tajuk semakin tinggi dan tetap menuju ke atas. Di masa tua, upaya pencapaian “sundung di langit” semakin terarah. Dari sana awalnya datang, di sana juga berakhirnya. Inilah akhir hidup manusia. Semua menuju ke penciptanya.

Perjalanan kehidupan manusia diakhiri, dan “sundung” ke alam penciptaan. Semua yang diperoleh di alam nyata, dunia fana, akan ditinggalkan.

Menurut Monang, kebanggaan terpuji adalah tabiat yang baik dan benar, sesuai hukum dan adat istiadat. disebut sebagai “hasangapon”.

Cabang dan ranting yang banyak akan mempengaruhi kerimbunan dedaunan. Akar yang kokoh dan kerimbunan daun (hatoropon) sebagai gambarannya. Banyaknya populasi, disebut “hagabeon”.

“Buah adalah biji disertai zat bermanfaat untuk pertumbuhan dan stimulant kepada mahluk hidup untuk menyebarkannya. Ada buah, ada pemanfaat dan ada pertumbuhan. Inilah yang disebut “hamoraon, “ujarnya.

“Parjuragatan”, mengartikan tempat bergelantungan ke sumber penghidupan. Sumber penghidupan ada beragam, seperti apa yang diberikan secara langsung (material) dan tidak langsung (non-material).

Pemimpin adalah “parjuragatan”, di mana ditemukan keadilan dan pencerahan.

Dia adalah “urat” (akar) hukum dan keadilan. Orang kaya (namora) adalah “parjuragatan”. Karena akar, memberi kehidupan material, penyambung hidup,

Kekayaan dengan `banyaknya buah`, bila tidak ada manfaat bagi orang lain, tidak akan ada yang berperan `menaburnya`.

Dia akan seperti ilalang yang menebar biji oleh tiupan angin karena tidak ada memberi manfaat dari buahnya bagi mahluk lain.

Kekurangan harta disebut “napogos” (miskin). Bila hartanya hanya cukup untuk bekal satu tahun disebut “parsaetaon” (pra sejahtera).

Bila sudah bisa menabung untuk cadangan pengembangan disebut “naduma” (sejahtera). Bila harta sudah menumpuk disebut `paradongan”.

“Namora” adalah sebutan kehormatan untuk yang aktif menolong sesama dengan harta bendanya sendiri. Jabatan ini, juga disandang dalam “harajaon” yang diartikan sebagai bendahara.

Kepada Raja dan “namora” disebut akar dari hukum dan kehidupan.

“Raja urat ni uhum, namora urat ni hosa”, jelas Monang.

Bila ada orang yang memiliki banyak harta, tapi tega membiarkan manusia di sekitarnya kelaparan, dia tidak dapat disebut “namora”, tapi “paradongan” atau “pararta.

Jika seseorang bermohon kepada Yang maha Kuasa “hamoraon”, jabarannya adalah harta benda, berikut hati yang iklas untuk mau dan mampu melakukan pertolongan kepada sesama manusia.

Monang menyebutkan, ada yang membedakan “hau sangkamadeha” dengan hau parjuragatan dan hau sundung di langit.

Menurut penjelasan beberapa orang tua dan pandai mengukir (gorga), bahwa penggambarannya adalah satu, tapi penjelasannya beragam.

Banyak yang memitoskan sebutan itu seperti pohon yang tumbuh di alam penciptaan, sehingga banyak yang tidak memahami pemaknaan beberapa perkataan itu dalam satu penggambaran.

Pada rumah “gorga” lama, gambaran “hau sangkamadeha” ini selalu dilukiskan dalam dinding samping agak di depan. Dalam penggambarannya kadang ada yang menyertakan gambar burung dan ular membelit.

Kayu yang berbuah selalu dihinggapi burung pemakan buah. Ular pun datang ke pohon itu, untuk memangsa burung (marjuragat). Semua mahluk berhak hidup, seperti manusia diberi hidup, menjadi bagian dari ekosistem.

Namun, dari semua mahluk yang “marjuragat” dalam pohon hidup, hanya manusia yang memahami “sundung di langit”.

Ada pemahaman lain yang dijelaskan, bahwa dalam menjalani hidup harus cermat dan teliti karena banyak musuh yang mengintip.

Sejak pemahaman barat masuk ke batak, dan mereka mengetahui penjelasan dari pohon (hau sangkamadeha), ada anjuran untuk tidak membuat lukisan itu lagi dalam rumah adat Batak.

Pemahaman itu dianggap sesat. Sehingga, kemudian banyak rumah adat batak dibangun tidak menggambarkannya lagi. Tapi, diganti dengan gambar orang barat yang membawa hal baru, yang cenderung menyesatkan budaya batak.

Pemerhati budaya, Baginda Sahat Napitupulu, tinggal di Malaysia, menilai, orang Batak zaman dulu, cukup genius. Sebab, mereka mampu menggambarkan serta merumuskan tentang pohon kehidupan.

“Banyak filosopi yang dapat dimaknai dari sangkamadeha yang mengambarkan posisi kita sebagai orang batak. Apakah terkategori `napogos`, `parsaetaon`, `naduma`, `paradongan` dan `namora/harajaon`, “ujarnya.

Tapi, kata dia lagi, jika sudah jadi “namora”, jangan lupa membantu orang di sekeliling. Sanak saudara yang masih butuh bantuan. Kalau bisa, bantuannya jangan hanya dalam bentuk uang/materi. Melainkan, kemudahan pendidikan dan pengembangan keahlian.

Martua Sidauruk, praktisi hukum dari Jakarta, menyampaikan idenya, untuk melakukan invetarisasi tentang nilai “habatahon” di bidang hukum.

Alasannya, dia contohkan dalam “hukum kontrak”. Hukum adat Batak, jauh lebih maju dan bersifat universal dari hukum nasional.

Antara lain, disebutkannya, semua praktisi hukum umumnya mengetahui, hukum kontrak bersifat universal. Di dalamnya, terkandung satu prinsip, janji lebih kuat daya ikatnya dari undang-undang.

Tapi, kata dia lagi, daya mengikatnya hanya berlaku bagi mereka yang membuat perjanjian saja. Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

Dilanjutkannya, dalam hukum adat batak, ada sebuah umpasa “Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang. Togu na nidok ni uhum, toguan na ni dok ni padan”.

Artinya, kata Martua, ikrar (padan) bagi orang batak, tidak hanya berlaku bagi mereka yang membuat padan itu saja, tapi secara turun temurun.

Makanya, sebut Martua, kita sering mendengar dan menemukan, adanya pantangan atau tabu tertentu, serta ikatan tertentu bagi satu marga dengan marga lain. Juga, sesama satu rumpun marga tertentu untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

Bahkan, lanjutnya “pinompar” (keturunan) dari orang yang membuat padan tersebut, hingga hari ini masih menghormati dan tidak berani melanggar padan itu. Alasannya, antara lain, takut akibat pelanggaran yang dilakukan.

Dalam hal ini, keistimewaan padan atau janji dari orang Batak bukan hanya bersifat legalistik, tetapi juga bersifat magis.

Bicara tentang budaya Batak dulu dan sekarang, cenderung diklaim sebagai kekeliruan (haliluon).

Sejatinya, kebebasan berpikir tanpa terikat satu doktrin, akan menguraikan nilai budaya Batak secara total, semampunya berdasarkan pemahaman yang utuh tanpa dilatari kepentingan golongan tertentu.  (ANT-219/K004)

sumber antaranews.com

Batak dan Artinya

Artikel di bawah ini sangat memberikan gambaran kepada kita, apa sebenarnya pengertian Batak itu!

Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu.

Di suratkabar Pewarta Deli No. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjutak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di suratkabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah di antara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”

keterangan serupa juga dikemukakan Dr. J. Warneck (Ephorus HKBP) dalam bukunya berjudul “Tobabataksch-Deutsche Woterbuch” seperti tertulis di halaman 26.

Menurut JS yang beralamat di Pangaribuan seperti tertulis di suratkabar Imanuel, tuan L.Th. Meyer juga menulis dalam bukunya berjudul “Maleisch Hollandsch Wordenboek“, pada halaman 37 : “Batak, Naam van een volksstamin in Sumatra…” (Batak adalah nama satu Bangsa di pulau Sumatra).

Keterangan itu dituturkan JS dalam tulisan pendeknya sebagai meluruskan adanya anggapan ketika itu seolah-olah perkataan Batak memberi pengertian terhadap suatu aliran/kepercayaan tentang agama tertentu yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak.

Citra Keperkasaan

Menyimak beragam catatan tentang topik yang sama, ternyata pada umumnya kata Batak meyiratkan defenisi-defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Sebab menurut Amborsius Hutabarat dalam sebuah catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938 menyimpulkan, pengertian Batak sebagai orang yang mahir menaiki kuda memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan.

Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis adanya teori mengatakan bahwa suku Batak adalah Si-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda sekitar Asia Tenggara sekarang memasuki pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia. (Buku Dalihan Natolu, Nilai Budaya Suku Batak, hal 32 cetakan 1992).

Drs DJ Gultom dengan bersusah payah telah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak, dengan membaca sejarah, legende, mithologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.

Beberapa perkataan “batak” antara lain dalam bahasa Batak Pakpak Dairi berbunyi : “Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn“. Maksudnya adalah bahwa mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tapak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Penggertian kata mmas batak dalam umpasa itu disimpulkan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia. Dengan demikian pengertian batakn pada masyarakat Dairi adalah asli, sejati, murni, atau mulia. Sebutan kata Batak pada masyarakat Dairi konon sangat bermakna, tak bisa sembarangan disebut, sehingga kata batak itu seperti disucikan.

Temuan perkataan “batak” pada Batak Karo antara lain adalah : Mbatak-mbatakken jenujung si Tongat kari berngi“. Maksudnya, nanti malam akan diadakan mbatak-mbatakken jenujung si Tongat. Masyarakat Karo berpandangan bahwa seorang manusia ada jenujungnya (junjungan) yang selalu mendampingi. Jenujung adalah roh yang mengikuti seseorang, dan sering membantu seseorang itu disaat dia terancam bahaya. Apabila jenujung seseorang meninggalkan atau tidak lagi mengikutinya alamat yang bersangkutan akan mendapatkan bahaya atau sakit-sakitan. Usaha agar jenujung seseorang kembali mengikutinya harus dengan melaksanakan upacara spritual. Itulah yang disebut orang Karo mbatak-mbataken. Dengan pengertian ringkas sebutan tersebut adalah suatu usaha suci agar seseorang tetap sehat kuat selamat sentausa. Masih ada ungkapan pada bahasa Karo berbunyi “Ibatakkenmin adah nda“, artinya bentuklah tempat itu. maksudnya apabila seseorang hendak mendirikan rumah, langkah pertama adalah meratakan tanah pertapakan didahului suatu kegiatan ritual agar rumah yang dibangun menjadi tempat yang sehat sejahtera bagi penghuninya. Itu dimaksud pula untuk pembuatan pundasi yang kuat agar rumah yang dibangun kokoh. Jadi pengertian ibatakken atau batak pada masyarakat Karo adalah usaha yang suci agar sehat dan kuat.

Adapun temuan perkataan “batak” pada bahasa Batak Simalungun, antara lain ” Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon“. Artinya, tinggikanlah batohan agar bagus sawah kita ini. Sawah yang terletak di pinggir sungai atau di lereng gunung sering rusak karena banjir. Untuk mencegahnya, maka di pinggir sawah dibuat benteng yang kuat penahan serangan banjir. Itu sebabnya, ada ungkapan “patinggi ma batohan i, ase dear sabahtaon”. Jadi pengertian Batahon pada masyarakat Simalungun adalah tumpuan kekuatan untuk menahan bahaya serangan.

Di Pilipina konon ada satu pulau yang bernama Batac (huruf “c” dibelakang). Di pulau itulah terdapat masyarakat yang banyak memiliki persamaan budaya dan bahasa dengan orang Batak Toba di Sumatera Utara. Konon pengertian kata “batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Seperti pernah diturunkan dalam satu tulisan di media Liputan Bona Pasogit beberapa waktu lalu, orang Pilipina terutama yang berasal dari kawasan daerah Batac di sana, merasa berada di negaranya saat berkunjung ke Sumatera Utara. Mereka menemukan pula sejumlah perkataan yang sebutan dan artinya sama dengan yang ada di negaranya. Misalnya kata “mangan” (makan), “inong” (inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya) dan banyak lagi.

Apakah ada pula hubungan kata Batak dengan “batu bata” atau batako (batu yang dibuat persegi empat memakai semen) yang digunakan untuk bangun-bangunan? Belum diketahui persis. Tapi arti kata “batu bata” dari “batako” juga dilukiskan sebagai bermaknaa kuat, kokoh, tahan lama. Sehingga bisa juga mendekati pengertian Batohan pada bahasa Simalungun.

Catatan yang penulis uraikan ini mungkin belum tentu sudah menjadi pengertian final tentang arti sebutan /kata Batak. Tapi berdasarkan berbagai catatan yang dikemukakan diatas, barangkali satu sama lain cukup mendekati untuk dirumuskan menjadi suatu kesimpulan. Apabila sebutan Batak itu berasal dari perkataan “mamatak” (penunggang kuda) kita mungkin bisa membayangkan kedekatan sejarah nama itu dengan karakter dan gaya hidup para leluhur di masa lampau yang diwarnai perjuangan, pertarungan, pertempuran, keberanian menghadapi berbagai tantangan demi mempertahankan eksistensinya.

Kuda selalu di ilustrasikan menjadi simbol keberanian, keperkasaan, keuletan dan jiwa kejuangan. Di jaman dulu, siapa tahu, orang Batak menggunakan kuda dalam merintis perkampungan ke daerah-daerah pedalaman, atau saat bertarung dengan musuh-musuhnya. Mungkin karena itu pula, lukisan Sinsingamagaraja XII oleh Agustin Sibarani dibuat menunggang kuda sehingga nampak lebih menekankan keperkasaan seorang tokoh pejuang. Sementara hingga saat ini di berbagai pelosok daerah terpencil di Tanah Batak, masih banyak penduduk yang menggunakan jasa kuda meskipun hanya sebatas pengangkutan barang.

Mungkin diantara pembaca masih ada yang memiliki catatan atau dokumen yang masih bisa memperkaya wacana seputar asal kata atau pengertian sebutan Batak, tentu akan sangat bermanfaat untuk melengkapi tulisan yang sifatnya masih terbatas ini.

sumber manalu.or.id

Sekitar 2.000 lebih naskah asli adat Batak, 1.000 di antaranya terbuat dari kulit kayu, saat ini berada di negeri Belanda dan Jerman. Profesor Dr Uli Kozok MA dari University of Hawaii, Minoa, Amerika, di Medan, Kamis (8/7/2010), mengatakan, ribuan naskah asli adat Batak tersebut dibawa ke luar negeri ketika masa penjajahan Belanda dan masa Zending IL Nomensen di tanah Batak.

Uli Kozok, ahli linguistik Batak asal Jerman, telah melakukan serangkaian penelitian soal sastra Batak. Penelitian itu dilakukan Uli untuk desertasi doktoralnya di Universitas Hamburg.

Seorang mahasiswa Uli Kozok, Nelson Lumban Toruan, yang memiliki kepedulian terhadap naskah Batak mengatakan, aksara Batak yang kini dikenal masyarakat sudah berlainan variasinya. Variasi pertama aksara Batak adalah yang ditulis di berbagai naskah. Jika

ditulis pada kulit kayu, dikenal sebagai pustaha (pustaka) atau laklak. Naskah lain ditulis di tulang, biasanya di tulang kerbau dan bambu. Tak pernah ada yang tahu pasti kapan pertama kali naskah Batak ditulis.

“Sebagai gambaran, sejak tahun 1700-an, British Museum sudah memiliki koleksi naskah Batak. Itu pun tak diketahui kapan naskah itu dibuat,” kata Nelson.

Saat ini baru dua naskah yang bisa diakses untuk umum karena telah diolah dalam bentuk digital. Sedangkan naskah lainnya belum dapat diakses karena masih dalam bentuk asli dan dikhawatirkan akan rusak jika diakses untuk umum.

“Isinya pada umunya berupa instruksi atau tatacara upacara ritual keagamaan, cara mengalahkan musuh dalam peperangan, puisi-puisi cinta, dan tradisi, serta budaya Batak lainnya,” katanya.

Ribuan naskah tersebut lebih aman dan terjamin kelestariannya jika berada di luar negeri. Pasalnya, di luar negeri lebih kecil peluang naskah tersebut diperjualbelikan atau disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

“Selama ini di Indonesia banyak benda budaya yang seharusnya dirawat tetapi malah diperjualbelikan. Makanya lebih baik naskah-naskah asli tersebut lebih aman jika berada di luar negeri,” katanya.

Menurut ahli sejarah itu, pembuatan naskah dan budaya Batak dalam bentuk digital dewasa ini sangat diperlukan, mengingat setiap naskah yang berada di luar negeri itu tidak mudah dibawa kembali ke Indonesia.

“Kalau sudah dalam bentuk digital akan mudah diakses oleh siapa saja termasuk juga oleh ilmuan-ilmuan yang meneliti lebih jauh tentang adat-istiadat suku Batak,” katanya.(*)

sumber kompas

Pada awalnya nenek moyang kita Siraja Batak mengukir aksara Batak untuk dapat menulis bahasa Batak, bukan untuk dapat menulis bahasa-bahasa yang lain. Barangkali pada waktu aksara Batak itu disingahon Siraja Batak, mereka tidak teipikir bahwa masih ada bahasa-bahasa yang lain selain bahasa daerah Batak.

Akan tetapi setelah Siraja Batak marpinompari, mereka menyebar ke desa na uwalu, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya masih ada bahasa daerah selain bahasa Batak.

Hal ini setelah datangnya sibontar mata (bangsa asing), kemudian menyusul dengan perang Batak dan perang Padri, barulah terbuka mata para pendahulu kita bahwa sebetulnya masih banyak bahasa-bahasa yang mereka temui di luar Tano Batak.

Kemudian kita merdeka, maka semakin banyak pula pergaulan orang Batak dalam rangka mencari upaya-upaya peningkatan taraf hidup.Mereka bisa sekolah di negeri masing-masing bahkan bisa di luar Tano Batak dan akhirnya bisa ke Batavia.Pengetahuan kita semakin terbuka sehingga selain bahasa Indonesia masih banyak bahasa-bahasa daerah lain dibumi persada kita ini.

Kalau kita melihat bahasa daerah Sunda, Jawa, Bali dan lain-lain, aksara Batak itu hanya bisa menulis bahasa Indonesia selain bahasa Batak. Aksara Batak tidak bisa menulis bahasa Sunda, Jawa, Aceh, Bali dan sebagainya maupun bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman.

Untuk mengantisipasi perkembangan zaman, sesuai dengan amanat GBHN, maka tokoh-tokoh masyarakat Batak melalui seminar pada tanggal 17 Juli 1988, telah mencoba mengembangkan aksara Batak dari 19 induk huruf menjadi 29 induk huruf.

Dengan demikian, maka bahasa Indonesia akan dapat dituliskan dengan aksara Batak. Surat Batak yang disepakati 17 Juli 1988, dikembangkan oleh masyarakat BatakAngkola-Sipirok-Padang Lawas-Mandailing-Toba-Dairi-Simalungun dan Batak Karo.

Surat Batak

Surat Batak

Cara menulis anak ni Surat untuk memperoleh bunyi a,i,u,e dan o pada Induk ni Surat




Aksara Batak Toba

Induk Huruf

Sistem tradisi penulisan didalam bahasa Batak Toba diduga telah ada sejak abad ke-13,dengan aksara yang mungkin berasal dari aksara Jawa Kuna, melalui aksara Sumatera Kuna. Aksara ini bersifat silabis artinya tanda untuk menggambarkan satu suku kata/silaba atau silabis. Jumlah lambang /tanda itu sebanyak 19 buah huruf yang disebut juga induk huruf dan ditambah 7 jenis anak huruf.

Pada dasarnya huruf /ka/ tidak pernah ditemukan dalam bahasa Batak Toba, misalnya orang Batak Toba pada mulanya bila menyebutkan kopi adalah hopi, dan hoda [bukan kuda]. Tetapi sekarang ini orang Batak tidak lagi menyebutnya hopi melainkan kopi, itulah perubahan pelafalan dalam bahasa Barak Toba.


  1. Untuk menuliskan semua kata-kata asli bahasa Batak. Sebenarnya hanyalah dipergunakan aksara-aksara yang telah diperkenalkan itu. Tetapi karena pengaruh bahasa asing maka terpaksalah dibuat aksara-aksara yang lain untuk melengkapi aksara yang sudah ada itu, yaitu : wa, ka , ya, nya dan ca.
  2. Karena menulis garis yang agak melengkung jauh lebih mudah dan merasa senang dari pada membuat garis lurus, maka bentuk aksara-aksara Batak “Surat Barak” itu menjadi melengkung.
  3. Cara menulis aksara Batak sama saja dengan menulis huruf latin, yaitu dari kiri ke kanan.
  4. “Surat Batak” tidak mempunyai tanda baca seperti koma, titik koma dan lain sebagainya. Yang ada hanya tanda untuk menyatakan sebuah kalimat berakhir dengan bentuk seperti [tanda bunga surat batak]
  5. Pada surat Batak tak ada huruf besar atau kecil, sebab aksara Batak itu bentuknya sama.
    Anak huruf, Hatadingan (-) “e”; dan hamisaran/paninggil (..-) “ng” berada pada induk huruf dan hamisaran/paninggil “ng” dapat melekat dengan anak huruf seperti haluaan (o), singkora (x)
  6. Hamisaran; Paninggil “ng” selalu melekat pada anak huruf, seperti haluaan (o), singkora(x).

Anak Huruf

Anak huruf dalam aksara Batak Toba terdiri atas 7 buah yang dipergunakan untuk mengubah bunyi induk huruf, misalnya bunyi /i, u, o,e/ dan menambah bunyi /ng/ pada induk huruf tersebut . Perhatikan anak huruf di bawah ini.

  1. Haluaan (…. o)bunyi /i/, yakni mengubah bunyi induk huruf menjadi bunyi /i/.
  2. Haboruan atau haborotan (…>) bunyi /u/, yakni mengubah bunyi induk huruf menjadi bunyi /u/.
  3. Singkora atau siala (…x) bunyi /o/, yakni mengubah bunyi induk huruf menjadi bunyi /o/.
  4. Hatadingan (-…) bunyi /e/, yakni mengubah bunyi induk huruf menjadi bunyi /e/.
  5. Paninggil atau hamisaran bunyi /ng/, yakni menambah tanda garis di atas induk huruf sebelah kanan yang menjadi bunyi /ng/ atau tanda diakritis yang menutup suku kata dengan bunyi.
  6. Sikorjan (…=) bunyi /h/ yang terikat. Selain bunyi “h” yang dapat berdiri sendiri ada juga bunyi “h”. yang terikat kepada induk huruf (ina ni surat). Dahulu kala dalam pustaha Batak tidak mengenal huruf “h” yang terikat, akan tetapi mengenal huruf “h” yang bebas (tidak terikat) pada ina ni surat (induk huruf). Tanda huruf “h” (sikorjan) yakni membubuhi tanda garis dua diatas induk huruf agak ke sebelah kanan, yang pada akhirnya berbunyi /h/.
  7. Pangolat (\), merupakan garis miring berfungsi untuk merubah bunyi vokal menjadi bunyi konsonan atau tanda diakritis yang menghilangkan bunyi dari huruf induk pada akhir suku kata.
  8. Untuk pemenggalan di akhir kata, dipakai tanda kurung tutup misalnya tanda [ ) ].
  9. Untuk mengakhiri kalimat dipergunakan tanda kembang [tanda bunga surat batak ]
  10. Semua aksara ditulis di bawah garis dengan tujuan agar kelihatannya rapi dan mudah ditulis. Huruf besar dan huruf kecil tidak ada perbedaan.
  11. Kata dalam aksara Batak ditulis tanpa jarak, tidak mempunyai batas permisah antar kata.
  12. Untuk menulis aksara Batak ditulis agak melengkung sedikit (punggungnya agak bungkuk sedikit).
  13. Patik dohot poda ni surat Batak

(1) Ingkon jumolo do ina ni surat bahenon, misalnya morhamisaran “ng” ipe asa maranak; morhatadingan “e”; morhaboruan “o” morhauluan “i”; morhaboritan “u”.

(2) Ingkon jumolo do ina ni surat marhajoringan “h” (di Simalungun dohot Karo) ipe asa maranak; hatalingan “e” ; haboruan “o” hauluan “i”.

(3) Ingkon jumolo do ina na tu inana tongonon “manongan “, ipe asa mangihut anakna bahenon.

Ndang jadi tu anak ni surat ampe hamisaran i, ingkon tu ina ni surat do parjolo, ipe asa maranak, morhauluan manang morhaboruan.

Informasi Penerimaan Siswa Baru ini merupakan informasi penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2010/2011 yang diadakan di Asrama Yayasan Soposurung dan SMA Negeri 2 Balige yang merupakan sekolah unggulan dan bertaraf Internasional yang ada di daerah Bonapasogit, tepatnya di Balige.

Informasi ini diambil dari web Asrama Yasop (http://www.yasop.org) dan SMA N 2 Balige (http://www.sman2balige.sch.id), dan untuk lebih detailnya dapat dilihat pada halaman web tersebut.

Berikut info penerimaan siswa/i tersebut.




T.A. 2010/2011

(Khusus untuk di luar Kabupaten Toba Samosir, Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan,Dairi dan Pakpak Bharat)


  1. Umum
    1. Warga Negara Indonesia
    2. Lulusan SMP Tahun Pelajaran 2009/2010
    3. Berkelakuan baik
    4. Sehat jasmani dan rohani
    5. Bersedia tinggal di asrama selama mengikuti pendidikan di SMAN 2 Balige dan sanggup mematuhi peraturan, tata tertib asrama dan sekolah
    6. Melampirkan fotokopi sertifikat TOEFL atau yang dapat disamakan bagi yang pernah kursus, piagam Olimpiade atau sertifikat lainnya (bila ada)
  1. Khusus
    1. Mengikuti tes akademik bagi calon siswa lulus seleksi administrasi dari pusat (yang mendapat surat balasan dari Sekretariat Yayasan Soposurung)
    2. Mengikuti tes psikologi, kesehatan, kesamaptaan dan wawancara bagi calon siswa yang lulus seleksi tes akademik
  1. Akademis
    1. Nilai rapor SMP semester 1 s/d 5 dengan rata-rata nilai kumulatif  5 (lima) poin diatas KKM(Kriteria Ketuntasan Minimal) sekolah yang bersangkuatan setiap semester.
    2. Tidak terdapat nilai rapor di bawah standar penilaian ( KKM + 5 poin) untuk mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk setiap semester di SMP, dari semester 1 s/d 5.
    3. Tidak terdapat nilai rapor selain poin b di bawah standar KKM untuk setiap mata pelajaran di SMP dari semester 1 s/d 5.
  1. Kelengkapan Pendaftaran
    1. Calon siswa mengirimkan permohonan agar dapat mengikuti seleksi di Asrama Yayasan Soposurung, yang ditujukan kepada: Ketua Yayasan Soposurung, Bapak Ir. Gustav Panjaitan, dengan alamat:

Asrama Yayasan Soposurung

Jl. Dr. Adrianus Sinaga Soposurung

Kabupaten Toba Samosir 22312

Telp/Fax. (0632) 21496

  1. Fotokopi rapor semester 1 s/d 5 dilegalisir oleh Kepala Sekolah masing-masing sebanyak 2 (dua) lembar.
  1. Surat Keterangan dari Kepala Sekolah yang menyatakan bahwa benar siswa yang bersangkutan bersekolah di sekolah yang dimaksud.
  2. Pasfoto warna terbaru ukuran 4 x 6 cm sebanyak 1 lembar.
  3. Melampirkan fotokopi Sertifikat TOEFL atau yang dapat disamakan bagi yang pernah kursus, piagam Olimpiade atau sertifikat lainnya (bila ada)
  4. Semua persyaratan di atas (poin a – e) dikirimkan ke alamat yang tertulis pada poin a.
  5. Batas akhir permohonan sampai 3 April 2010.


  1. Waktu dan Tempat
    1. Pendaftaran di Asrama Yayasan Soposurung dilaksanakan pada tanggal 12 – 17 April 2010, pukul 09.00-15.00 WIB.
    2. Tempat pendaftaran di Kantor Asrama Yayasan Soposurung.
  1. Prosedur Pendaftaran
    1. Calon siswa mengirimkan permohonan dan syarat yang berikut di atas ke Ketua Yayasan, Bapak Ir. Gustav Panjaitan.
    2. Permohonan dan persyaratan paling lambat diterima oleh Sekretariat kami pada tanggal

3 April 2010.

  1. Bagi calon siswa yang diijinkan oleh Ketua Yayasan untuk dapat mengikuti tes akademik di Asrama Yayasan Soposurung, akan mendapatkan surat balasan sampai awal April 2010.
  2. Calon siswa yang lulus seleksi administrasi dapat mendaftarkan diri di Kantor Asrama Yayasan Soposurung pada hari dan jam yang telah ditentukan di atas.
  3. Persyaratan yang dibawa adalah sebagai berikut:
    • Pasfoto warna terbaru ukuran 3 x 4  sebanyak 2 (dua) lembar, ukuran 2 x 3  sebanyak 2 (dua) lembar.
    • Map folio warna merah.
    • Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 85.000,-


  1. Seleksi Akademis (Tahap I)
    1. Seleksi akademis (Tes Akademik) akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Mei 2010, dimulai pukul 10.00 – 17.00 WIB. Tempat pelaksanaan ujian di SMAN 2 Balige dan Asrama Yayasan Soposurung.
    2. Hasil seleksi akademis diumumkan pada tanggal 5 Mei 2010 di Kantor Asrama Yayasan Soposurung (0632-21496) dan SMAN 2 Balige (0632-21385) atau dapat dilihat melalui website Yasop: www.yasop.org
    3. Bagi calon siswa yang lulus seleksi tahap I berhak mengikuti tes tahap II.
  1. Tes Psikologi, Kesehatan, Kesamaptaan dan Wawancara (Tahap II)
    1. Pelaksanaan tes tahap II adalah pada tanggal 12,14 dan 15 Mei 2010.
    2. Bagi calon yang tidak hadir pada tanggal tersebut tidak ada ujian susulan dan dinyatakan gugur.


  1. Pengumuman hasil penerimaan siswa baru Asrama Yayasan Soposurung akan dilaksanakan pada tanggal 21 Juni 2010 di Kantor Asrama Yayasan Soposurung (0632) 21496 dan SMAN 2 Balige (0632) 21385 atau dapat dilihat melalui website Yasop: http://www.yasop.org
  2. Pendaftaran ulang bagi siswa yang diterima tanggal 25 Juni 2010, dengan melengkapi persyaratan berikut:
    1. SKHUN SMP
    2. Fotokopi SKHUN yang telah dilegalisir sebanyak 2 (dua) lembar.
    3. Pasfoto hitam putih terbaru ukuran 3 x 4 cm sebanyak 8 lembar.
    4. Pasfoto hitam putih terbaru ukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 lembar.
  3. Calon siswa yang dinyatakan lulus tetapi tidak mendaftar ulang dinyatakan mengundurkan diri.
  4. Siswa baru masuk Asrama pada hari Rabu, 26 Juni 2010 pukul 15.00 langsung diantar oleh orangtua, dan telah membawa perlengkapan hidup di Asrama yang telah ditentukan oleh pihak Asrama sebelumnya.

Soposurung, 4 Februari 2010

Panitia SPSB 2010

Sedangkan untuk info penerimaan mahasiswa baru untuk melanjut kejenjang perkuliahan, Politeknik Informatika Del (http://www.pidel.org) yang lokasinya juga berada di daerah Bonapasogit, Laguboti sedang membuka penerimaan mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2010/2011 dan pendaftarannya dapat dilakukan secara online melalui http://spmb.pidel.org. Untuk info yang lebih jelas, dapat dilihat di http://www.pidel.org .

Jangan sia-siakan kesempatan yang ada karena kesempatan yang ada  adalah terbatas.