Archive for the ‘Batak’ Category

Enjoying ‘tuak’ in Batak country

Lively: Lapo tuak or foodstalls where tuak is served are popular gathering places in North Sumatra. They also serve a variety of snacks.Lively: Lapo tuak or foodstalls where tuak is served are popular gathering places in North Sumatra. They also serve a variety of snacks.

For the Batak community in North Sumatra, tuak (palm liquor) is not just for drinking binges. The beverage is mandatory at celebrations, and drinking tuak has become something of a tradition.

Five minutes past midnight a lapo tuak (tuak foodstall) is serving tuak in the Simalingkar area of Medan. A rectangular table was surrounded by five youths. Their eyes were beginning to redden but they weren’t babbling. They were talking about God.

“What makes you convinced Jesus is God?” one of them asked his friends. Before they replied, the discussion was interrupted by our arrival. When we said we wanted to discuss tuak, they warmly welcomed us and invited us to sit down.

“Just guess, how many glasses of tuak have I drunk?” asked a man in a green T-shirt with red eyes. Observing and counting the glasses scattered in front of him, I answered “five”. “More”, he said. Then the talk at the table veered to the traditional drink.

Key ingredient: After palm juice from trees in the forest is collected it is mixed with raru bark. Three hours later is will be tuak.Key ingredient: After palm juice from trees in the forest is collected it is mixed with raru bark. Three hours later is will be tuak.The five youth were ethnic Bataks belonging to different kinship groups. They said their affinity for tuak had been developing over a long period of time; it was during elementary school that they first tasted it.

As elementary school students they tried to drink the liquor stealthily to avoid their parents finding out. But when they grew up, they started to consume tuak regularly with no admonishment, they said.

The alcohol content of tuak varies because the drink is prepared without fixed scientific standards. “If I’m in an unstable condition, even drinking a glass may make me drunk. But when I’m normal, in the sense of mentally and physically healthy, drinking five glasses won’t make me drunk,” said one young man.

Precious liquid: Palm juice tapped from palm trees is poured into another container through a sieve.Precious liquid: Palm juice tapped from palm trees is poured into another container through a sieve.“This drink can make me drunk, so can whiskey, but I prefer tuak because it’s more natural. As far as I know, drinking it regularly will make us healthy, excessive drinking is uncouth,” said another youth.

Drinking tuak in Batak country is usually accompanied by a range of snacks. Bataks call such snacks tambul, and they can range from your usual varieties of nuts to crispy fried snake.

In North Sumatra, many regions produce the palm liquor. Torong, a village in Karo regency, is one of them. The village is not far from the town of Berastagi, around 15 minutes in the direction of Lake Lau Kawar.

In Torong, tuak stall owners sell the drink in large quantities, processing the tuak themselves. Nira (sugar palm) juice is the base for tuak, and is derived from palm trees in the forests near local residences.

At 8 a.m. and 4 p.m., paragat — the people who tap palm juice — in Torong enter the woods. They say these hours are the right moments to harvest.

“Around noon, the palm juice will taste sour,” said Marihot Purba, a tuak stall owner and paragat in Torong. Marihot has been making tuak for 12 years, always relying on his self-taught processing skills.

One morning, Marihot invited me to join him to see how palm juice was tapped. Exactly at 8 a.m. we left his stall. No equipment was carried apart from lunch boxes and a water container. Marihot’s dog, named Brown, accompanied us.

We crossed a river and walked along a one-kilometer-long path. The terrain wasn’t difficult, with few ascents. After about 15 minutes’ walk we reached Marihot’s plot. There was a small hut to keep his equipment. He entered the cabin to change clothes.

In harvesting palm juice, paragat believe they should always wear the same clothes, as they think by doing so the palm trees will recognize their owners and more juice will be obtained.

Marihot took the tools needed for tapping from the hut — a matchstick-shaped beater, bamboo containers, sieves and a dagger. He uses the beater to strike the stalks of palm fruits to be cut and the containers to collect the fluid.
Sampling: Marihot Purba, who produces tuak and runs a stall where the beverage is served, tastes a sample of the palm juice used to create the alcoholic beverage in the forest of Torong in North Sumatra.Sampling: Marihot Purba, who produces tuak and runs a stall where the beverage is served, tastes a sample of the palm juice used to create the alcoholic beverage in the forest of Torong in North Sumatra.

Before harvesting, Marihot noticed a palm fruit stalk that could produce juice. He climbed the palm tree with the aid of a bamboo stem. The stalk was struck with the beater, shaken and cut. The cut was smeared with soap to protect it from insects and covered with a tuber leaf. In two weeks, the stalk would again be cut by about 3 centimeters. The cut exuding fluid would later be fitted with a bamboo container to collect the juice that will flow for four months.

Then Marihot moved to another palm tree, this time for harvesting. The bamboo container already filled with fluid was taken down and replaced with an empty one. “It’s quite a lot,” he told me, displaying the contents. The approximately four liters of palm juice in the bamboo tube was then poured into another container through a sieve.

The palm sap harvest was then mixed with raru bark. Three hours later it would be tuak with its sweet flavor, a bit sticky and strong yet refreshing. The alcohol content, sweetness and viscosity depend on the processing and the amount of raru mixed with the liquid.

Tuak lovers believe that the traditional beverage keeps the body warm, and can heal diabetes and remove kidney stones.

In North Sumatra, tuak isn’t just found in lapo tuak, but is served at practically every celebration. So for Bataks, drinking tuak has become a tasty tradition.

— Photos by Andika Bakti

sumber:  thejakartapost.com 


Read Full Post »

Dalam tahun ke-10 s.M. tulisan silabis orang Fenesia itu dipinjam oleh orang Yunani. Tetapi, karena bahasanya berlainan sifat silabisnya akhirnya ditinggalkan dan orang Yunani mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis, yaitu dengan mengambarkan setiap konsonan dan vokal dengan satu huruf. Aksara Yunani ini kemudian diambil alih oleh orang Romawi dan dalam abad-abad pertama Masehi aksara Romawi atau Latin ini menyebar ke seluruh dunia dan sampai ke Indonesia sekitar abad ke-16 bersamaan dengan penyebaran agama Kristen. Aksara Romawi ini sampai sekarang masih dipakai.

Jauh sebelum aksara Romawi dikenal di Indonesia pelbagai bahasa di Indonesia ini sudah mengenal aksara yaitu aksara yang dikenal dalam Bahasa Jawa, Sunda, Madura, Bali, Sasak, Lampung, Bugis Makasar, dan Batak. Jenis aksara ini diturunkan dari aksara Pallawa dipakai di India Selatan dalam abad ke-4 M. yang disebarkan di Indonesia bersamaan dengan penyebaran agama Hindu dan Budha. Aksara Pallawa sendiri diturunkan dari tulisan Brahmi yang asal-usulnya dapat ditelusuri ke tulisan Semit. Jadi aksara India itu sebenarnya seasal dengan aksara Ibrani, Parsi, dan Arab.

Kedatangan agama Islam di Indonesia menyebabkan tersebamya aksara Arab. Aksara Arab yang dikenal di Indonesia berlainan sedikit daripada aksara Arab di negeri Arab, karena mendapat pengaruh dari aksara Arab-Parsi. Aksara Arab yang dipakai dalam Bahasa Melayu dikenal sebagai aksara Jawi. Bahasa Jawa juga mempergunakan tulisan Arab khususnya yang dipakai dalam karya-karya yang bersangkutan dengan agama Islam. Tulisan Arab untuk Bahasa Jawa ini dikenal sebagai aksara Pegon.

Silsilah beberapa jenis aksara

Silsilah beberapa jenis aksara

Bagan 1 masih berhubungan dengan bagan 2, sehingga dapatlah dilihat bahwa aksara itu mempunyai perjalanan yang cukup panjang. Hal ini terbukti dari bagan 1 dan bagan 2

Silsilah aksara batak

Menurut N. Siahaan (1964:115), bahwa Sastra tulis telah lama ada, diduga sejak abad ke-13, yaitu dengan adanya “aksara Batak yang berasal dari aksara Jawa Kuna melalui aksara Sumatera Kuna”, sesudah Singosari mengirimkan tentaranya ke Jambi di Sumatera Tengah.

Sastra tulis itu adalah berupa ilmu perbintangan atau astronomi, tarombo atau silsilah, ramuan pengobatan tradisionil, turi-turian yang bersifat mythe atau dongeng. Cerita-cerita itu ditulis dengan aksara Batak Toba pada kulit kayu yang lebarnya dapat dilipat. Tulisan pada kulit kayu itu disebut pustaha ‘pustaka’ yang sekarang ini sulit ditemukan. “Seperti diterangkan di atas bahwa tidak ada seorang ahli yang dapat mengetahui dari mana asal muasal aksara Batak.” Namun, manusia hanya dapat mengira-ngira atau menghubung-hubungkan sejarah terjadinya aksara di muka bumi ini. Tetapi secara linguistik dapat dikaji bahwa aksara itu bermula dari “aksara Hieroglif Mesir”, dan turun temurun sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu (lihat bagan di atas).  (bersambung)

Sumber: Artikel Latar Belakang Sejarah Aksara Batak
Pengarang : tidak disebutkan

Read Full Post »

Tulisan atau artikel di bawah ini adalah cerita mengenai “Latar Belakang Sejarah Aksara Batak” yang penulisnya tidak disebutkan namun menurut saya isi artikel tersebut sangat baik sekali dan kita lebih tahu secara mendalam mengenai aksara batak dan latarbelakangnya. Terimakasih untuk orang yang membuat artikel ini dan mohon izin mempublikasikannya.

Dalam masyarakat, bahasa sering dipergunakan dalam pelbagai konteks dengan pelbagai macam makna. Ada orang yang berbicara tentang “bahasa warna”, tentang “bahasa bunga”, tentang “bahasa diplomasi”, tentang “bahasa militer”, dan sebagainya. Di samping, itu dalam kalangan terbatas, terutama dalam kalangan orang yang membahas soal-soal bahasa, ada yang berbicara tentang “bahasa tulisan”, “bahasa lisan”, “bahasa tutur”, dan sebagainya.

Bahasa adalah sistem bunyi, jadi bahasa adalah apa yang dilisankan orang. Tulisan sebagai wahana bahasa perlu sekali dari awal dipahami secara tepat, karena sampai sekarang masih banyak orang menyangka bahwa tanpa tulisan. tidak ada bahasa, padahal banyak sekali bahasa di dunia ini yang tidak mempunyai sistem tulisan. Anak-anak pun sudah pandai berbicara sebelum mereka belajar menulis. Sebaliknya masih banyakjuga orang yang menyangka bahwa linguistik mengabaikan tulisan, padahal penyelidikan linguistik mengenai sistem tulisan sudah lama dilakukan orang (Kridalaksana, 1990:89-92).

Sistem tulisan atau aksara ciptaan manusia yang paling berguna. Dengan tulisan manusia dapat menembus batas-batas waktu dan ruang. Ingat manusia itu pendek: dengan tulisan manusia dapat menyimpan kekayaan akal budinya. Bahasa dan kehidupan masyarakat dapat dibaca betapa tulisan menyebabkan adanya fungsi bahasa yang beraneka warna.

Sejarah Aksara

Sulit sekali sekarang ini untuk mengetahui kapan manusia pertama kali mempergunakan tulisan. Para ahli linguistik pada umumnya mengira tulisan tumbuh dari gambar seperti yang kita temukan di gua Altamira di Spanyol Utara. Pada waktu kemudian gambar-gambar itu sungguh-sunguh menjadi tulisan, atau piktogram. Berlainan dengan tulisan modern, piktogram. secara langsung menggambarkan benda yang dimaksud. Contoh piktogram berikut kita ambil dari sejarah tulisan Cina:

piktogram sejarah tulisan Cina

piktogram sejarah tulisan Cina

Tulisan piktogram dipakai di kalangan orang-orang Indian Amerika, orang Yukagir di Siberia dan juga dapat ditemukan di pulau Paska (Pasifik Timur). Dalam zaman modern pun piktogram masih dipakai dalam tanda lalu lintas internasional, dan pada tanda-tanda kamar kecil untuk laki-laki dan untuk perempuan.

Pada suatu saat, piktogram tidak hanya menunjukkan gambar benda yang, dimaksud melainkan juga sifat-sifat benda itu atau konsep-konsep yang berhubungan dengan benda itu; misalnya dalam tulisan hieroglif di Mesir (dipakai sekitar 4000 tahun s.M).

Kebenaran itu dapat di lihat, yaitu gambar tongkat dari Firaun berarti ‘memerintah’ lihat gambar di bawah ini.

tongkat dari Firaun

tongkat dari Firaun

Gambar kedua ini adalah gambar air keluar dari kendi berarti ‘segar’ atau ‘dingin’. Piktogram yang menggambarkan gagasan dan bukan benda seperti hieroglif Mesir Kuna itu disebut ideogram. Hal itu dapat dilihat pada gambar kedua di bawah ini.

tongkat dari Firaun

air keluar dari kendi

Dalam sejarah yang panjang piktogram atau ideogram itu disederhanakan sehingga tidak tampak lagi hubungan antara gambar dan apa yang dimaksud. Salah satu contoh dapat dilihat dari aksara paku, yang dipergunakan oleh bangsa Sumoria pada 4000 tahun s.M.

Sistem tulisan Sumeria tersebut kemudian diambil alih oleh orang Persia, yaitu pada tahun (600-400 s.M), tetapi tidak untuk menggambarkan atau gagasan atau kata melainkan untuk menggambarkan suku kata. Sistem yang demikian disebut aksara silabis.

Dalam waktu yang hampir bersamaan orang Mesir mengembangkan juga tulisan yang menggambarkan suku kata. Aksara silabis ini mempengaruhi sistem tulisan bangsa-bangsa lain termasuk bangsa Fenesia yang hidup di Pantai Timur Laut Tengah (sekarang disebut Libanon). Pada sekitar tahun 1500 s.M. aksara Fenesia membuat 22 suku kata. Dalam sistem ini setiap tanda melambangkan satu konsonan diikuti oleh satu vokal. (bersambung)

Sumber: Artikel Latar Belakang Sejarah Aksara Batak

Pengarang : tidak disebutkan

Read Full Post »

Seperti kita ketahui, Toga Gultom adalah keturunan no. 1 dari Si Raja Sonang. Keturunan yang lain adalah Toga Samosir, Toga Pakpahan, dan Toga Sitinjak. Pada jaman dahulu kala manusia di bumi ini masih sedikit. Si Raja Sonang membagi-bagi daerah kekuasaannya kepada keempat anaknya. Toga Gultom mendapat bagian di suatu tempat di P. Samosir yang bernama Tujuan Laut. Tempat ini adalah daerah pertama yang diduduki oleh Toga Gultom.

Toga Gultom memiliki empat orang anak yaitu Huta Toruan (Tujuan Laut), Huta Pea, Huta Bagot, dan Huta Balian. Seluruh keturunan Toga Gultom hidup di Tujuan laut tersebut dan setelah mereka menjadi banyak, mereka membuka lahan disekitarnya, diantaranya Sitamiang yang diberikan kepada Huta Toruan.

Pada suatu saat salah seorang keturunan Huta Pea, yaitu Si Palang Namora menyebrang lautan menuju ke daerah Sibisa dan menetap disana. Daerah Sibisa adalah daerah yang diduduki oleh marga Sirait. Didaerah ini Si Palang Namora menikah dengan boru Sirait dan memiliki beberapa orang anak, yaitu Tumonggopulo, Namoralontung, Namorasende, dan Raja Urung Pardosi. Keadaan ekonomi keluarga Si Palang Namora ini berkembang dengan baik dan menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan perekonomian anak lelaki dari keluarga Sirait. Hal ini menimbulkan ketakutan pada keluarga Sirait, sehingga mereka berusaha agar Si Palang Namora meninggalkan kampung mereka. Pada akhirnya Si Palang Namora meninggalkan daerah Sibisa dan kembali ke P. Samosir. Akan tetapi salah seorang anak tidak ikut bersama mereka, yaitu Raja Urung Pardosi. Pada saat itu Raja Urung Pardosi sedang menimba ilmu hadatuon di daerah Hatinggian.

Si Palang Namora bersama keluarganya menetap di P. Samosir. Ketiga anak yang ikut bersamanya pada akhirnya menyebar ke beberapa daerah di sekitar Tujuan Laut, yaitu Sitamiang, Huta Hotang, Janji Matogu, Siriaon, dan Gonting. Anak No. 1 dan 2, yaitu Tumonggopulo dan Namoralontung menyebar ke Gonting. Sedangkan anak no. 3 (Namorasende) menduduki daerah Huta Hotang. Selanjutnya penyebaran keturunan Gultom Huta Pea adalah ke daerah Janji Matogu dan Siriaon. Penyebaran ke daerah ini dimulai dari keturunan Ompu Saruambosi (Raja Na Iringgit), yaitu keturunan Gultom Huta Pea generasi ke 10 (dapat dilihat pada bagian Family Tree/Tarombo) dari anak ketiga si Palang Namora. Ceritanya, Raja Na Iringgit memiliki empat orang permaisuri, yaitu:

  1. Br. Parhusip
  2. Br. Samosir
  3. Br. Parhusip
  4. Br. Manurung

Permaisuri yang pertama, yaitu Br. Parhusip tidak memiliki anak lelaki. Permasuri yang kedua, yaitu Br. Samosir, menurunkan tiga orang anak lelaki, yang kemudian bermukim di Siriaon. Sedangkan permaisuri yang ketiga, yaitu Br. Parhusip menurunkan lima orang anak lelaki, yang kemudian bermukim di Janji Matogu. Permaisuri yang keempat, yaitu Br. Manurung, menurunkan empat orang anak Lelaki, yang kemudian bermukim di Sitamiang. Masing-masing anak menjadi cikal bakal penyebaran Gultom ke daerah tersebut.

Penyebaran Keturunan Gultom Huta Toruan ke daerah Siregar

Gultom Huta Toruan yang bermukim di daerah Sitamiang pada akhirnya banyak yang menetap dan bertambah banyak di daerah Siregar. Adapula yang menyebar ke daerah lain, misalnya Pangaribuan. Adapun keturunan Gultom Huta Toruan adalah:

  1. Op. Parpodang
  2. Op. Martabun
  3. Op. Sonar

Penyebaran Keturunan Gultom Huta Pea ke Pangaribuan

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa Raja Urung Pardosi tidak ikut pulang ke P. Samosir bersama keluarganya, karena saat itu ia sedang menimba ilmu hadatuon di daerah Hatinggian.

Seperti layaknya seorang anak yang baru saja menyelesaikan sekolah, Raja Urung Pardosi hendak pulang ke rumah orang tuanya di Sibisa. Akan tetapi ia mendapati rumah orang tuanya kosong. Akhirnya bersama dua orang teman seperguruannya, yaitu Harianja dan Pakpahan, mereka berjalan terus. Dalam perjalanan itulah mereka menemukan burung Tekukur. Mereka berusaha menangkap burung itu dengan cara menyumpitnya, agar burung itu jatuh. Tetapi burung itu sulit sekali ditangkap sehingga tanpa disadari mereka terus mengikuti burung itu sampai hari gelap. Akhirnya mereka sampai di suatu daerah yang bernama Pangaribuan. Disana mereka ditampung oleh sebuah keluarga bermarga Pasaribu. Sebagai tuan rumah yang baik, Pasaribu berusaha melayani tamunya dengan baik. Pasaribu meminta sang istri untuk menyediakan makanan bagi para tamu. Akan tetapi si istri menginformasikan bahwa tidak ada lauk-pauk yang dapat disajikan. Pasaribu menjawab,”Huting ima seat”. Akhirnya si istri menyembelih huting (kucing), dan mengolahnya menjadi makanan siap saji yang berupa tanggo-tanggo, sementara tamu-tamu mereka beristirahat. Setelah makanan siap disajikan, Pasaribu membangunkan tamu-tamunya, dan mempersilahkan mereka makan. Raja Urung Pardosi bertanya kepada teman-temannya, “Apa lauknya?”. Yang dijawab oleh teman-temannya, “Tanya saja!”. Karena mereka telah menimba ilmu hadatuon, mereka memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang bagi orang lain mustahil. Akhirnya Raja Urung Pardosi bertanya kepada tanggo-tanggo di meja makan,”Jika engkau ayam, berkokoklah!”, namun tidak terjadi sesuatu. Raja Urung Pardosi bertanya kembali, “Jika engkau kambing, mengembiklah”, namun tetap tidak terjadi sesuatu. Raja Urung Pardosi dan teman-temannya terus menyebutkan nama-nama hewan, namun tanggo-tanggo itu tetap tidak bersuara, sampai akhirnya salah seorang menyebutkan,”Jika engkau kucing, mengeonglah”, akhirnya berloncatanlah kucing dari dalam piring tanggo-tanggo itu. Pasaribu yang melihat kejadian itu menjadi kaget, dan lari pontang-panting ketakutan. Ia mengira ketiga tamunya bukan manusia biasa. Seluruh kampung menjadi geger, dan akhirnya melarikan diri keluar dari daerah itu. Adapun ketiga orang itu, Raja Urung Pardosi, Harianja, dan Pakpahan, akhirnya menetap di daerah itu. Raja Urung Pardosi, yang digelari Datuk Tambun, ini menjadi keturunan Gultom pertama yang menetap di Pangaribuan.Ia memiliki empat orang anak, yaitu:

  1. Namora so Suharon yang tinggal di desa Parlombuan

  2. Baginda Raja, tinggal di desa Parsibarungan

  3. Saribu Raja, tinggal di desa Batumanumpak

  4. Pati Sabungan, tinggal di desa Batunadua

Selanjutnya penyebaran meluas ke daerah Sipirok, yang dimulai dari keturunan Saribu Raja. Saribu Raja memiliki dua orang anak yaitu, Namora Soaloon yang tetap tinggal di desa Batumanumpak, dan Babiat Galemun, yang kemudian tinggal di desa Simangambat, Sipirok.

Penyebaran Keturunan Gultom Huta Bagot & Huta Balian

Pada saat keluarga Si Palang Namora kembali ke P. Samosir, setelah bermukim sekian lama di Sibisa, keturunan Gultom Huta Bagot, menyebar ke beberapa daerah, termasuk ke Sumatera Timur. Namun ada satu daerah yang diakui sebagai “tanah air” keturunan Gultom Huta Bagot, yaitu daerah Joring.

Sedangkan keturunan Gultom Huta Balian, pada umumnya bermukim di daerah Sipollung di Sitamiang.

Demikianlah sejarah penyebaran keturunan Toga Gultom secara garis besar. Mungkin akan lebih baik jika perwakilan dari masing-masing anak Toga Gultom, melengkapi kisah penyebaran marga Gultom, mengapa bisa sampai di kampung halaman Anda saat ini, karena tidak ada cerita yang lebih baik selain dari Anda sendiri yang menjadi tokoh ceritanya. (Nara Sumber: M.X Gultom, Sahrun Gultom, Founder Gultom Foundation)

ni enet sian angelfire.

Read Full Post »

Adat Meninggal Dunia

Kalau kita berbicara tentang kematian, secara tidak langsung itulah yang ditunggu-tunggu manusia yang sadar bahwa tanpa kematian tidak ada proses pada kehidupan yang kekal dan abadi. Kematian itu adalah proses alami yang harus berlaku bagi setiap manusia yang beragama (menurut kepercayaan), dan khususnya Dalihan Natolu, mempunyai arti tersendiri sehingga tidak lepas dari bagian Adat dan Budaya Batak.

Dalam hal ini kita dapat mengamati pada acara dan Upacara yang berlaku di masyarakat Dalihan Natolu khususnya di Jabotabek dalam segala usia dan menurut kebiasaan yang dilakukan. Oleh karena itu perlu kita ajukan suatu acuan pedoman yang diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat Dalihan Natolu dalam pelaksanaan Adat kematian dimasa mendatang.

Kita dapat membedakan Adat Kematian dalam masyarakat Dalihan Natolu berdasarkan agama (dapat dijelaskan secara singkat). Macam atau Ragam Adat bagi warga yang meninggal dunia:

  1. TILAHA : Kematian bagi warga Dalihan Natolu berkeluarga yang biasa disebut NAPOSO dalam hal ini perlakuan.
  2. PONGGOL ULU (SUAMI) : Kematian yang diakibatkan si suami lebih dahulu meninggal dunia daripada si istri, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.
  3. MATOMPAS TATARING (ISTRI) : Kematian yang diakibatkan si istri lebih dahulu meninggal daripada si suami, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.
  4. SAUR MATUA : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang sudah mempunyai cucu dan semua anak-anaknya sudah berkeluarga.
  5. MATUA BULUNG : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang telah mempunyai cucu bahkan sudah mempunyai cicit atau disebut Nini/Nono dengan lanjut usia.
  6. Nini : Disebut keturunan dari anak laki-laki.
  7. Nono : Disebut keturunan dari anak perempuan.

Bagaimanakah hubungannya kematian tersebut dengan Adat Dalihan Natolu, dalam hal ini lebih dahulu kita harus mengetahui yang meninggal termasuk golongan mana dari Ragam kematian tersebut diatas untuk menempatkan Adat juga hubungannya dengan Ulos.

Dalihan Natolu mempunyai 3 hal yang berhubungan dengan Ulos:

  1. Pemberian ULOS SAPUT, Ulos ini diberikan kepada yang meninggal dunia sebagai tanda perpisahan. Siapakah yang berhak memberikan SAPUT tersebut, dalam hal ini perlu kita mempunyai satu persepsi untuk masa yang akan datang karena hal ini banyak berbeda pendapat menurut lingkungannya masing-masing, misalnya HULA-HULA/TULANG.
  2. Pemberian ULOS TUJUNG, Dalam hal ini semua dapat menyetujui dari pihak HULA-HULA.
  3. Pemberian ULOS HOLONG.

Dari semua pihak Hula-hula, Tulang Rerobot bahkan Bona ni Ari termasuk dari Hula-hula ni Anak Manjae/Hula-hula ni na Marhaha Maranggi, berhak memberikan kepada Keluarga yang meninggal.

Bagaimanakah hubungannya dengan Adat Dalihan Natolu diluar Ulos tersebut yang mempunyai harga diri (dalam Pesta Adat). Dalam hal ini terjadilah beberapa pelaksanaan setelah adanya Musyawarah atau lazim disebut RIA RAJA oleh beberapa Dalian Natolu disebut Boanna. Boan ini (yang dipotong pada hari Hnya) terdiri dari beberapa macam, misalnya:

  1. Babi/Kambing, disebut Siparmiak-miak
  2. Sapi, disebut Lombu Sitio-tio
  3. Kerbau, disebut Gajah Toba

Sesuai dengan Adat Dalihan Natolu tingkatan daripada Boan tersebut disesuaikan dengan Parjambaron.

Fungsi Dalihan Natolu menggunakan istilah Adat :

  • Pangarapotan : Adalah suatu penghormatan kepada yang meninggal yang mempunyai gelar Sari Matua dan lain-lain sebelum acara besarnya dan penguburannya atau dihalaman (bilamana memungkinkan). Dalam hal ini suhut dapat meminta tumpak (bantuan) secara resmi dari family yang tergabung dalam Dalihan Natolu disebut Tumpak di Alaman.
  • Partuatna : hari yang dianggap menyelesaikan Adat kepada seluruh halayat Dalihan Natolu yang mempunyai hubungan berdasarkan adat. Pada waktu pelaksanaan ini pulu Suhut akan memberikan Piso-piso/situak Natonggi kepada kelompok Hula-hula/Tulang yang mana memberikan Ulos tersebut diatas kepada yang meninggal dan keluarga dan pemberian uang ini oleh keluarga tanda kasihnya.. Juga pada waktu bersamaan ini pula dibagikan jambar-jambar sesuai dengan fungsinya masing-masing dengan azas musyawarah sebelumnya, setelah itu dilaksanakanlah upacara adat mandokon hata dari masing-masing pihak sesuai dengan urutan-urutan secara tertulis. Setelah selesai, bagi orang Kristen diserahkan kepada Gereja (Huria) untuk seterusnya dikuburkan.

ni enet sian hutanamidotcom

Read Full Post »

Di hita halak batak, ari-ari manang tingki adong do goarna di bahen na joloani inon. Molo di hita dalam bahasa Indonesia, adong ma didok 01.00 – 24.00 dalam sat hari, jala di bulan adong tanggal 1-30. Di hita halak batak, adong do goar ni inon sudena, songon ma didok disi na ni enet sian hutanami.com,

Dalam Bahasa Batak, ada istilah yang menyatakan waktu (jam) dalam hari. Dalam bahasa batak di kenal istilah “tikki na lima”. “Sogot” adalah antara pukul 05.00 s/d pukul 07.00 pagi. “Pangului” adalah antara pukul 07.00 s/d pukul 11.00 pagi. “Hos” adalah antara pukul 11.00 s/d pukul 13.00 siang. “Guling” adalah antara pukul 13.00 s/d pukul 17.00 sore. “Bot” adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00 petang.

Kalau istilah diatas menyatakan waktu dalam range, maka ada lagi istilah yang spesifik menunjuk jam berapa.

Jam 01 : Haroro NI Panakko
Jam 02 : Tahuak Manuk Sahali
Jam 03 : Tahuak Manuk Dua Hali
Jam 04 : Buha-Buha Ijuk
Jam 05 : Torang Ari
Jam 06 : Binsar Mata Ni Ari
Jam 07 : Pangului
Jam 08 : Turba
Jam 09 : Pangguit Raja
Jam 10 : Sagang Ari
Jam 11 : Huma Na Hos
Jam 12 : Hos / Tonga Ari
Jam 13 : Guling
Jam 14 : Guling Dao
Jam 15 : Tolu Gala
Jam 16 : Dua Gala
Jam 17 : Sagala
Jam 18 : Mate Mata Ni Ari
Jam 19 : Samon
Jam 20 : Hatiha Mangan
Jam 21 : Tungkap Hudon
Jam 22 : Sampe Modom
Jam 23 : Sampe Modom Na Bagas
Jam 24 : Tonga Borngin


Dalam bahasa batak dikenal juga istilah hari dalam bulan. Jika dalam bulan ada 30 hari maka setiap hari tersebut ada istilahnya / bahasa bataknya, sbb:
Hari ke-1 : Artia
Hari ke-2 : Suma
Hari ke-3 : Anggara
Hari ke-4 : Muda
Hari ke-5 : Boraspati
Hari ke-6 : Singkora
Hari ke-7 : Samisara
Hari ke-8 : Antian ni aek
Hari ke-9 : Suma ni mangadap
Hari ke-10 : Anggara Sampulu
Hari ke-11 : Muda ni mangadap
Hari ke-12 : Boraspati na tanggok
Hari ke-13 : Singkora Purnama
Hari ke-14 : Samisara Purnama
Hari ke-15 : Tula
Hari ke-16 : Suma ni Holon
Hari ke-17 : Anggara ni holon
Hari ke-18 : Muda ni holon
Hari ke-19 : Boraspati ni holon
Hari ke-20 : Singkora mora turun
Hari ke-21 : Samisara mora turun
Hari ke-22 : Antian ni anggora
Hari ke-23 : Suma ni mate
Hari ke-24 : Anggara ni begu
Hari ke-25 : Muda ni mate
Hari ke-26 : Boraspati na gok
Hari ke-27 : Singkora duduk
Hari ke-28 : Samisara bulan mate
Hari ke-29 : Hurung
Hari ke-30 : Ringkar

Jadi marlapatan do ate goar ni ari inon tu partubu ni angka jolma, jala sian i do hape didok jala muncul pangalaho jala pantangan na dibahen angka natua-tua na ujui.

Jala angka goar-goar ni tingki i non dibahen tudos tu angka ula-ula ni jolma di tingki inon. 🙂

Read Full Post »

Anak ni Raja Sonang

Hira piga-piga hali memang, hubereng apala tung mansai bingung do iba mamereng di hurang jelas on ni anak hon ni ompu ta Raja Sonang. Adong na mandok anak ni Raja Sonang ima Gultom, Samosir, Pakpahan, dohot Sitinjak. Adong na deba mandok hon, dang holan i anakhon ni Raja Sonang, Pandiangan termasuk do dibagas na.

Mungkin mambahen i ala hurang dope ra ate informasi tu hita angka pomparan ni Raja Sonang songon dia do satohona. Mungkin molo adong angka dongan lumobi tu angka pomparan ni Raja Sonang, anggo boi nian, dibagi ma songon dia nian cerita ni omputa na jolo an inon. Asa unang mansai bingung hita dibahen sa.

Marnida inon, hucoba ma hubereng di daftar tarombo ni si Raja Batak sahat tu angka anakhon na jala tu parserakan ni angka marga na adong. Disi di surathon, ianggo anakhon ni Raja Sonang i ma opat halak, ima Gultom, Samosir, Pakpahan dohot Sitinjak. Anggo Pandiangan anak hon ni Raja Humirtap saudara ni Raja Sonang. Anggo Harianja, anakhon ni Samosir ma sian Sidari. Hira songoni ma hurasa anggo so sala hurang lobi.

Molo adong angka dongan na manambai jala padenggan hon, nauli jala na denggan.


Anak ni Raja Sonang

Read Full Post »

Older Posts »